Wednesday, May 1, 2019

Vietnam, Swates, dan Hari Presentasi





Selasa, 30 April 2019
            Hari ini ada hal yang sedikit berbeda dari rutinitas pekerjaan saya, Hari ini saya akan mempresentasikan sebuah alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya over cut dalam kegitan penambangan, dalam acara perlombaan terkait inovasi karyawan yang di selenggarakan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Idenya sederhana,yakni menggabungkan GPS murah, perangkat Arduino dan lampu LED untuk menunjukkan dimana letak batas design penambangan. Apabila alat berat melewati batas yang ditunjukkan maka lampu pada alat akan menyala, sehingga kegiatan penambangan tidak melewati batas yang ditentukan. Kalau rekan saya yang sudah mengikuti blog saya ( www.madesapta.com) dari tahun 2015, tentunya tidak akan asing lagi dengan alat ini.
            Alat ini sebenarnya merupakan modifikasi dari alat yang saya buat sewaktu kuliah di Teknik Geodesi UGM bersama saudara Imad dan Bagas Lail, teman kuliah di UGM yang kini sudah menempuh jalannya masing-masing. Dulu kami beri nama alat ini Swates yang berarti Suwanten Wates (Suara Perbatasan). Alat ini ditujukan bagi nelayan Indonesia yang mencari ikan di wilayah perbatasan. Maraknya kasus penangkapan nelayan di wilayah perbatasan mendorong kami para mahasiswa pada saat itu untuk membuat alat untuk membantu nelayan menunjukkan dimana letak batas maritime yang ada.
            Sudah empat tahun setelah alat ini dibuat, kini saya modifikasi kembali alat ini untuk digunakan di pertambangan. Namun sehari setelah saya presentasi alat ini untuk digunakan di dunia tambang, banyak media di Indonesia memberitakan mengenai kapal TNI ditabarak kapal Vietnam. Tentunya kasus ini juga erat kaitannya dengan batas maritime. Melihat bertita ini, teringat seorang sosok guru yang mengajarkan saya banyak hal dan sekaligus membimbing saya membuat alat swates di UGM pada waktu kuliah, beliau bapak Andi Arsana yang juga seorang pakar dalam batas maritime . Saya penasaran dengan kasus Vietnam, waktunya meminta kuliah singkat via telepon dengan sang pakar.
            “Apa kabar tentang Vietnam?” langsung saya tanyakan malam tadi ketika menelepon dengan ahlinya. Langsung beliau menjelaskan kembali seperti kisah klasik masa kuliah yang kadang dirindukan. Intinya belum ada kesepakatan batas laut antara Indonesia dengan Vietnam. Lalu apa yang terjadi ketika nelayan Vietnam menangkap ikan di laut yang belum disepakati batasnya? Tentu saja salah, karena belum jelas siapa pemilik ikannya. Lalu bagaimana kalau peerintah Indonesia menangkap nelayan tersebut? Bisa juga dibilang salah, karena belum tentu juga ikannya milik Indonesia. Selama belum ada kesepkatan batas laut, Indonesia dan Vietnam sama-sama menentukan klaim batas sepihak,  apa akibatnya? Mungkin di mata Vietnam, Indonesialah yang salah, dan di mata Indonesia, Vietnam lah yang salah. Mungkin seperti itu. Apa yang harus dilakukan? Menurut saya pribadi, merpercepat penetapan batas laut Indonesia dengan Vietnam dapat mengurangi konflik.
            Namun terkadang berita di media yang kita dengar terlalu heboh dengan kenyataan sebenarnya, dilaut bisa saja nelayan di tangkap, di darat mungkin diplomat Indonesia dengan Vietnam sedang ngopi bareng sambil mendiskusikan batas maritime ke dua Negara. Entahlah. Tulisan ini harus saya sudahi, karena harus mengirimkan script Matlab mengenai prediksi pasang surut laut ke Thirh Tam, teman saya asal Vietnam yang sedang menempuh study Oceanografi di Vietnam.

PS:
Foto tahun 2015 di sebuah hotel di Bali, ketika menemani pakar batas maritime presentasi mengenai perbatasan.