Wednesday, May 1, 2019

Vietnam, Swates, dan Hari Presentasi





Selasa, 30 April 2019
            Hari ini ada hal yang sedikit berbeda dari rutinitas pekerjaan saya, Hari ini saya akan mempresentasikan sebuah alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya over cut dalam kegitan penambangan, dalam acara perlombaan terkait inovasi karyawan yang di selenggarakan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Idenya sederhana,yakni menggabungkan GPS murah, perangkat Arduino dan lampu LED untuk menunjukkan dimana letak batas design penambangan. Apabila alat berat melewati batas yang ditunjukkan maka lampu pada alat akan menyala, sehingga kegiatan penambangan tidak melewati batas yang ditentukan. Kalau rekan saya yang sudah mengikuti blog saya ( www.madesapta.com) dari tahun 2015, tentunya tidak akan asing lagi dengan alat ini.
            Alat ini sebenarnya merupakan modifikasi dari alat yang saya buat sewaktu kuliah di Teknik Geodesi UGM bersama saudara Imad dan Bagas Lail, teman kuliah di UGM yang kini sudah menempuh jalannya masing-masing. Dulu kami beri nama alat ini Swates yang berarti Suwanten Wates (Suara Perbatasan). Alat ini ditujukan bagi nelayan Indonesia yang mencari ikan di wilayah perbatasan. Maraknya kasus penangkapan nelayan di wilayah perbatasan mendorong kami para mahasiswa pada saat itu untuk membuat alat untuk membantu nelayan menunjukkan dimana letak batas maritime yang ada.
            Sudah empat tahun setelah alat ini dibuat, kini saya modifikasi kembali alat ini untuk digunakan di pertambangan. Namun sehari setelah saya presentasi alat ini untuk digunakan di dunia tambang, banyak media di Indonesia memberitakan mengenai kapal TNI ditabarak kapal Vietnam. Tentunya kasus ini juga erat kaitannya dengan batas maritime. Melihat bertita ini, teringat seorang sosok guru yang mengajarkan saya banyak hal dan sekaligus membimbing saya membuat alat swates di UGM pada waktu kuliah, beliau bapak Andi Arsana yang juga seorang pakar dalam batas maritime . Saya penasaran dengan kasus Vietnam, waktunya meminta kuliah singkat via telepon dengan sang pakar.
            “Apa kabar tentang Vietnam?” langsung saya tanyakan malam tadi ketika menelepon dengan ahlinya. Langsung beliau menjelaskan kembali seperti kisah klasik masa kuliah yang kadang dirindukan. Intinya belum ada kesepakatan batas laut antara Indonesia dengan Vietnam. Lalu apa yang terjadi ketika nelayan Vietnam menangkap ikan di laut yang belum disepakati batasnya? Tentu saja salah, karena belum jelas siapa pemilik ikannya. Lalu bagaimana kalau peerintah Indonesia menangkap nelayan tersebut? Bisa juga dibilang salah, karena belum tentu juga ikannya milik Indonesia. Selama belum ada kesepkatan batas laut, Indonesia dan Vietnam sama-sama menentukan klaim batas sepihak,  apa akibatnya? Mungkin di mata Vietnam, Indonesialah yang salah, dan di mata Indonesia, Vietnam lah yang salah. Mungkin seperti itu. Apa yang harus dilakukan? Menurut saya pribadi, merpercepat penetapan batas laut Indonesia dengan Vietnam dapat mengurangi konflik.
            Namun terkadang berita di media yang kita dengar terlalu heboh dengan kenyataan sebenarnya, dilaut bisa saja nelayan di tangkap, di darat mungkin diplomat Indonesia dengan Vietnam sedang ngopi bareng sambil mendiskusikan batas maritime ke dua Negara. Entahlah. Tulisan ini harus saya sudahi, karena harus mengirimkan script Matlab mengenai prediksi pasang surut laut ke Thirh Tam, teman saya asal Vietnam yang sedang menempuh study Oceanografi di Vietnam.

PS:
Foto tahun 2015 di sebuah hotel di Bali, ketika menemani pakar batas maritime presentasi mengenai perbatasan.

Wednesday, January 23, 2019

Anak Rumahan


31 Desember 2008
Hari ini Joni bangun lebih pagi, ia ingin pergi ke pasar untuk membeli beberapa ekor ayam untuk dipanggang di malam tahun baru ini. Bersama dengan Bapak dan Ibunya, ia berencana menyambut tahun baru 2009 di Desanya yang tenang dan damai dengan membuat ayam bakar. Berbeda dengan Ucup, pagi sekali ia sudah ke Balai Desa, bersama para pemuda duduk dipinggir jalan sambil menenggak beberapa botol bir. Ucup dan beberapa pemuda Desa pun juga sudah berencana untuk mengadakan pesta tahun baru di Balai Desa. Ucup mulai mengumpulkan uang patungan dengan pemuda lain untuk membeli ikan serta beberapa botol arak untuk diminum ramai ramai nanti malam. Tak lupa,Ucup yang juga merupakan teman Joni sejak TK sampai kini beranjak SMA mengajak Joni untuk ikut nanti malam ke Balai Desa. Joni mengiyakan untuk ikut nanti ke Balai Desa, pikirnya setelah selesai acara di rumah, iya bisa ikut bergabung dengan pemuda Desa. 
Selama ini Joni memang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan disekolah. Joni yang selama ini  hidup pas-pasan, sekolah dengan beasiswa, tidak ingin banyak membuang waktunya di luar rumah. Sepulang sekolah ia membantu kedua orang tuanya membersihkan kandang babi, dan sesekali ikut mencari rumput untuk seekor sapi yang di pelihara neneknya, dan ketika malam iya fokus belajar untuk mempertahankan beasiswanya. Hal ini membuat Joni di cap sebagai anak rumahan oleh rekan-rekan seusianya. Berbeda dengan Ucup, Ucup adalah simbol pemuda penuh kebebesan di Desa. Ucup lebih mudah ditemui dipinggir jalan dari pada di rumah. Bir dan arak adalah minumanya sehari-hari. Ia banyak digandrungi pemuda ABG karena gayanya yang penuh kebebesan, dan terlihat sangat menikmati hidup.
Malam penyambutan tahun barupun tiba, Joni sudah bersiap ke balai Desa untuk berkumpul bersama pemuda Desa. Selesai bakar-bakar ikan tentunya acaranya selesai dan ia bisa pulang,pikirnya. Sampai di balai desa, Joni kaget, tidak ada ikan sama sekali. Ia bertanya pada Ucup, uang tadi pagi yang ia berikan bersama pemuda lain apa tidak jadi di belikan ikan. Ucup menjelaskan kalau uangnya hanya cukup untuk membeli beberapa kerat bir dan beberapa jerigen arak.  Pikir Joni yang tidak terbiasa minum minuman beralkohol, mungkin dia hanya perlu minum sebotol bir, mengobrol sebentar dan kemudian pulang. Namun kenyataannya berbeda, Ucup mengajak Joni untuk ikut sampai puncak acara. Tepat pukul 12 malam, semua pemuda duduk membentuk lingkaran. Arak 2 jerigen pun dikeluarkan oleh Ucup, kemudian diputar ke semua orang untuk diminum bergiliran. Tiba saat giliran Joni pun tiba, ia meminum sedikit kemudian bergegas mengoper gelasnya ke rekan disampingnya. Joni mulai merasa tidak nyaman. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Sehausnya bukan seperti ini dia merayakan tahun baru. Ia mulai gelisah, hingga tiba gilirannya lagi untuk meminum kembali arak yang begitu panas di tenggorokan.  Kembali ia minum satu tegak dan hatinya makin gundah. Tiba saat giliran minumnya untuk yang ketiga, Joni memutuskan berhenti dan menyudahi perhelatan batinnya. Ia sadar jiwanya tidak disini. Joni pun memutuskan pulang. Ucup mencoba menahannya, namun Joni tetap bersikeras ingin pulang. Ia tidak lagi menghiraukan dicap anak rumahan karena ia merasa tidak seperti ini tahun baru dirayakan. Pukul 1 malam Joni tiba di rumah, masih ada perhelatan dalam batinnya. Niatannya dia ingin menghabiskan waktu bersama teman-temannya disisilain ia merasa dia salah tempat jika ikut minum arak. Joni menghela nafas dan memikirkan keputusannya yang memilih pulang duluan. Sejak saat itu Joni lebih sibuk aktif berorganisasi disekolahnya, dan jarang menemui temannya Ucup, apalagi jika diajak pergi nongkrong, Joni selalu berusaha menghindar dan memilih belajar di rumah.
10 tahun kemudian….
“Bu apa Joni ada dirumah?”, pagi sekali Ucup mendatangi rumah Joni. “Wah kamu terlambat Cup, kemarin siang Joni sudah berangkat ke Kalimantan, 2 bulan lagi baru pulang, jawab Ibu Joni sembari memberi pakan ikan lele peliharaan Joni. Mendengar berita itu Ucup pun kembali pulang. Karena ada sesuatu yang penting ingin dibicarakan, iapun mencatat jadwal kedatangan Joni agar ia bisa bertemu langsung dengan Joni. Tepat 2 bulan kemudian Ucup kembali mendatangi rumah Joni, “Apa Joni sudah pulang Bu” Tanya ucup kepada Ibu Joni. “Joni pulangnya diundur, ia sekarang sedang di Jakarta, katanya ada training dari perusahaannya, semingggu lagi ia pulang”. Sejak menyelesaikan kuliahnya, Joni memang jarang dirumah, ia langsung pergi merantau ke Kalimantan dan bekerja di sebuah perusahaan tambang  batubara, Dua bulan sekali dia mendapat libur 2 minggu dan kemudian berangkat lagi ke Kalimantan. Sementara itu Ucup kini lebih banyak dirumah, ia masih bingung menentukan pekerjaan apa yang cocok untuk dirinya. Ia pun berharap bisa bertanya pada Joni, apakah mungkin masih ada lowongan yang cocok untuk dirinya di Kalimantan dengan hanya berbekal ijasah SMA. Sembari mencari pekerjaan, Ucup pun menunggu kepulangan Joni. Namun sepertinya memang belum jodoh, Ucup hendak menemui Joni seminggu sebelum ia berangkat kembali ke Kalimantan, karena ia tahu diminggu pertama jika pulang Joni biasanya susah ditemui karena sibuk bergelut dengan bisnisnya. Namun kali ini ternyata Joni hanya seminggu di rumah, seminggu sisa cutinya ia habiskan di Jogja untuk menemui pacarnya. Dalam pikiran Ucup, kini Joni sulit ditemui, ia jarang di rumah. Diusianya yang memasuki kepala dua, ia bukan anak rumahan lagi, bahkan rumah hanya tempat singgah sesaat. Kali ini Ucup yang menghela nafas, ia rasa ia lebih baik mencoba melamar kerja di seputaran kampungnya saja karena rasanya tidak cukup bekal ilmu jika harus merantau kesana-kemari seperti Joni. Terjadi perhelatan batin dalam diri Ucup disatu sisi ia juga ingin bekerja seperti Joni, disisi lain, ia sadar ilmu dan modal yang ia miliki belum cukup untuk dibawa merantau. Sejak saat itu Ucup akhirnya lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja di kampungnya. 
31 Desember 2039
Hari ini Joni mengambil keputusan besar dalam hidupnya, ia memberi tahu istrinya kalau ia sudah mengajukan pensiun dini ke perusahaannya dan tidak lagi merantau. Joni memutuskan ingin fokus mengelola bisnisnya dan lebih banyak waktu dengan istri dan anak anaknya di rumah. Malam tahun baru ini Joni ingin lewati bersama keluarganya dirumah, dan diawal tahun depan ia sudah begembira karena kini ia bisa menghabiskan banyak waktu dirumah dan tidak merantau lagi. Hari ini pun Joni sudah menyiapkan ikan bakar untuk pesta tahun baru dan beberapa kerat Bir untuk teman-temannya yang sudah ia undang untuk datang ke rumah. Sore itu juga Joni mendatangi rumah Ucup untuk mengundangnya ke rumahnya nanti malam untuk merayakan tahun baru. Namun sayang, Ucup tidak ada dirumah, ia kini sulit ditemui. Ucup bekerja pagi siang, hingga larut malam. Bahkan di tahun baru Ucup masih mengambil lembur. Diusianya yang sudah memasuki kepala empat, Ucup haru bekerja keras untuk menghidupi keluarganya hingga ia jarang di rumah. Joni pun merayakan tahun baru tanpa ada Ucup. Malam itu sekilas Joni mengingat kembali hidupnya, ia merasa dalam hidupnya ia dua kali memasuki periode menjadi anak rumahan, pertama ketika masih  SMP dan SMA ia banyak dirumah untuk belajar, sedangakan setelah kuliah ia melanglang buana ke berbagai pelosok untuk bekerja, dan kini diusianya yang sudah memasuki usia kepala empat, ia lebih banyak dirumah, mengurus bisnis dan menulis buku. Sesekali ia menyempatkan diri bepergian ke luar pulau untuk liburan bersama keluarganya. Joni berusaha mengambil nilai positif dalam hidup yang sudah ia lalui untuk diteruskan ke anak-anaknya.
“Ayah, aku mau pergi ke balai Desa ya!” teriak Jonatan anak sulung Joni yang ingin berangkat ke balai Desa untuk merayakan malam tahun baru bersama pemuda desa. Teriakannya langsung membuyarkan lamunan Joni.
“Ya boleh, hati-hati ya” kata Joni sambil tersenyum pada anaknya.
“ Acaranya mungkin sampai subuh atau sampai pagi Yah, apa tidak apa-apa?” Tanya Jonatan pada ayahnya.
“Prediksi Ayah mungkin kamu akan memutuskan untuk pulang sendiri jam setengah satu malam” kata Joni
“Kok ayah bisa memprediksi seperti itu?” Jonatan heran.
“ Pesan ayah nanti malam ikuti kata hatimu kalau kamu merasa ada yang salah”
Jonatan masih bingung dengan perkataan ayahnya, iya pun tetap bergegas ke balai desa dan Joni menghabiskan sebotol bir nya sambal memikirkan bisnis bisnisnya yang akan ia kembangkan lagi di awal tahun ini.

PS: foto diatas bukan Joni, hanya ilustrasi.

Monday, December 17, 2018

10 Pertanyaan Orang Awam Kepada Pekerja Tambang




Berawalal dari pertanyaan-pertanyaan aneh dari Ibu saya dan beberapa orang di kampung yang menanyakan mengenai dunia pertambangan, saya rangkum beberapa pertanyaan tersebut untuk anda para pembaca yang mungkin juga ingin tahu seperti Ibu saya dirumah dan masih asing dengan dunia pertambangan.

Bagaimana mengetahui ada batubara di dalam tanah?
Sebelum melakukan proses penambangan, terlebih dahulu dilakukan  pengeboran yang tujuannya untuk mengetahui adakah batubara di area tersebut dan dikedalaman berapa ditemukan batubara serta seberapa tebal batubaranya. Dari data bor tersebut kemudian dibuatkan model bentuk batubara di bawah tanah, kemudian dengan model tersebut dapat dihitung cadangan batubara yang ada, apakah masih untung jika ditambang atau tidak. Jika masih untung/ bernilai ekonomis baru kemudian kegiatan penambangan dilakukan.

Perlu menggali seberapa dalam untuk menemukan batubara?
Setiap daerah memiliki karakteristik kedalaman batubara yang berbeda. Secara logika semakin dangkal batubara, maka akan semakin mudah dalam pengambilannya serta memerlukan biaya yang lebih murah karena semakin sedikit tanah yang perlu dikupas untuk mendapatkan batubara. Kedalaman batubara ini erat kaitannya dengan nilai Striping Ratio (SR). SR adalah nilai perbandingan antara tonase batubara dengan volume tanah yang dikupas (overburden). Misal SR 1 : 9, maka untuk mendapat 1 ton batubara diperlukan 9 meter kubik overburden yang harus dikupas. Semakin dalam batubara maka nilai SR nya semakin tinggi.

Kemana tanah diangkut dan dibuang?
Lapisan tanah diatas batubara atau disebut overburden dikupas dan ditempatkan pada satu tempat yang disebut dengan disposal. Disposal ini tidak dibuat sembarangan, ada perencanaan serta design disposal. Ketika disposal ini sudah penuh, disposal ini akan ditanami kembali dengan tumbuhan, proses penghijauan kembali di lokasi pertambangan ini disebut proses reklamasi. Perlu diperhitungkan berapa luasan area disposal yang diperlukan untuk dapat mengupas seluruh overburden di area batubara yang sudah direncanakan.

Batubara sebelum dijual perlu diolah?
Saya sudah bekerja di dua perusahaan pertambangan batubara, keduanya tidak melakukan pengolahan batubara sebelum dijual, batubara langsung diangkut ke port / pelabuhan, kemudian dikirim ke pembeli.

Bekerjanya siang dan malam?
Proses penambangan berlangsung siang dan malam. Karena biaya produksi penamangan sangat tinggi, maka waktu satu detikpun sangat diperhitungkan. Tapi tentu saja, orang yang bekerja di waktu siang berbeda dengan yang bekerja di waktu malam. Maka dari itu, perusahaan tambang yang besar biasanya memiliki banyak karyawan.

Alat apa saja yang digunakan? Dan berapa banyak?
Terdapat 3 alat utama, yakni alat gali disebut loader, alat angkut disebut-sebut houler, dan alat support misalnya alat untuk perbaikan jalan, pembuatan tanggul, dan lain-lain. Alat loader contohnya Excavator, houler contohnya adalah Dump Truck dan alat support misalnya Bulldozer.

Benarkah kerja di tambang berat?
Kalau yang ini tergantung orangnya. Jika kamu susah bangun pagi, maka kerja ditambang akan terasa berat. Atau jika kamu melamar sebagai driver dump truck namun tidak tahan mengemudi dalam waktu yang lama, maka akan terasaa berat juga. Jika kamu tidak suka membuat design serta membuat perencanaan tambang lengkap dengan hitungannya, maka kamu tidak cocok menjadi mine engineer. Begitu sebaliknya, jika dirasa cocok maka akan terasa mudah.

Apakah tinggal dipedalaman? Bagaimana dengan listrik, air dan tempat tinggalnya?
Kebanyakan memang lokasi tambang jauh dari pemukiman. Pertanyaannya bisa sampai seberapa jauh? Itu tergantung masing-masing tambang, mess tempat tinggal saya kurang lebih hanya perlu waktu 15 menit untuk menemukan indom*ret atau alfam*rt, jadi kalau tidak ingin tinggal terlalu di pedalaman, sebelum masuk ke perusahaan tambang, pelajari dulu letak geografis site yang akan dimasuki. Untuk listrik dan air tentunya sudah difasilitasi perusahaan, bahkan air hangat pun tersedia di perusahaan perusahaan yang sudah memiliki “nama”.

Adakah yang membawa keluarga merantau ketika bekerja di tambang?
Setiap perusahaan tambang biasanya sudah menyediakan mess lengkap fasilitasnya, tapi mess hanya diperuntukan untuk pekerja dan bukan keluarganya. Di tempat saya bekerja, ada kompensasi uang perumahan jika pekerja tidak diluar mess bersama keluarganya. Tentunya ada syarat dan ketentuan untuk bisa mendapatkan uang kompensasinya. Jadi sangat terbuka peluang untuk membawa keluarga ikut merantau di seputaran area tambang.

Berapa gajinya?
Yang ini agak sensitive untuk dibahas tapi biasnya paling pertama ditanyakan oleh orang di kampung. Silahkan Tanya Ibu saya langsung berapa gaji anaknya. Saya jawab gajinya cukup.




Iklan: saya jual buku mengenai ilmu geodesi, pesan bukunya di PESAN BUKU

PS: Masih banyak yang lebih ahli dibidang pertambangan, silahkan kritik dan saran ke saptahadi9@gmail.com

Monday, June 25, 2018

Menulis dan Bekerja



25 Juni 2018

Malam ini secara tidak sengaja saya membuka kembali beberapa file kuliah yang mengingatkan saya kembali mengenai “masa kejayaan’ dimana setiap ada kegiatan baru atau hal-hal yang menarik akan selalu saya tuliskan dan posting di website saya. Namun kini sudah berbeda, ketika sudah bekerja entah mengapa menulis terasa begitu berat. Bahkan ketika memulai tulisan ini, saya ingin membatalkan untuk menulis ketika baru menulis tiga kata. Jika dulu saya sering menulis, beberapa tujuannya untuk menyimpan hal-hal penting seperti ilmu, pengalaman, atau perjalanan agar suatu waktu bisa dibuka kembali dimana saja dan kapan saja. Berbeda orientasi dengan sekarang, impian untuk membangun rumah dengan keringat sendiri, memiliki usaha sendiri dapat mengalihkan hobi menulis yang dulunya terasa begitu semangat dan menggairahkan kini mulai memudar. Tentu saja ini adalah hal yang tidak bagus, dulu dengan konsisten menuliskan hal yang positif saya mendapat pengalaman yang tak terduga. Kini menulis terasa berat dan melelahkan. Mungkin penulis lain pernah meraskan ini.
Kini dengan roster keja yang cukup bagus, 52 hari kerja dan 13 hari libur sepertinya hobi menulis ini harus tersalurkan kembali. Bahkan buku Catatan Inspirasi Geodet Muda ini tak terurus. Perlu stategi untuk mengatur kembali pemasarannya. Bagi yang belum beli silahkan pesan nanti bulan Juli ketika saya cuti J (ini iklan). Kembali lagi ke menulis dan bekerja, dalam ajaran Hindu mungkin saya mulai memasuki masa peralihan antara Brahmacari (Masa menuntu ilmu) dan Grahasta (Masa membangun keluarga). Orientasi untuk merangkum ilmu dan pengalama baru ke dalam website mulai beralih dengan bekerja dan berpenghasilan untuk membangun rumah bangunan dan rumah tangga.
Setidaknya malam ini saya memaksa diri saya untuk menulis kembali. Guru saya mengatakan semangat seorang penulis dapat semangat menulis kembali ketika mendapat respon positif dari pembaca. Saya berencana untuk menulis beberapa keilmuan tentang software yang digunakan dalam dunia tambang. Apakah saya akan menuliskannya? Jika saya ada satu komentar positif di postingan ini mungkin saya akan menuliskannya J

Mess PT BUMA
Desa Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

Saturday, November 4, 2017

Merantau



Balikpapan, 4 November 2017
Hari ini saya menempuh perjalan cukup panjang. Saya akan menuju lokasi kerja saya, yakni di Tarakan. Dari Denpasar terlebih dahulu saya harus terbang ke Surabaya untuk transit selama 1,5 jam. Kemudian dari Surabaya saya terbang ke Balikpapan. Di Balikpapan saya menunggu 4 jam kemudian ganti pesawat. Baru kemudian terbang kembali ke Tarakan. Sampai di Tarakan saya belum benar-benar sampai di lokasi kerja, saya masih berada di support officenya saja, baru besok pagi saya naik speed boat untuk menuju lokasi kerja. Mungkin bagi seorang lulusan Geodesi, perjalanan ini adalah perjalanan biasa saja. Karena memang beberapa bidang pekerjaan terkait Geodesi berada tidak di pusat kota, dunia pertambangan salah satunya.
Namun kisah perjalanan ini mungkin akan berbeda jika diceritakan kepada Ibu saya, bibi saya, atau beberapa tetangga yang ada di desa. Naik pesawat adalah “barang mahal” di desa. Beberapa kali saya pulang kampung, ada saja yang menanyakan, “Nyen ajak mulih?” (Pulang dengan siapa?). Tentu saja jawabannya sendiri. Maka akan ada sebagian moms jaman old heran, “berani pulang sendiri??”. Hell yeaahh man!! Tentun saja berani. (Tentu saja tidak saya jawab seperti itu). Belum lagi saya jelaskan jika pulang dari Tarakan, saya harus 3 kali naik pesawat, menuju Balikpapan, turun di Makasar baru kemudian terbang ke Bali. Maka beberapa rekan Ibu saya yang sehari-hari bergelut dengan daging babi dengan upah 40 ribu per hari sama seperti Ibu saya akan mengatakan “Nak kude meli tiket pesawat?” (Berapa beli tiket pesawat?). Jawabannya adalah tiketnya dibelikan perusahaan, persetanlah dengan harganya. Tentu saja jika saya meminta uang kepada Ibu saya, dengan gaji 40 ribu sehari, sebulan misalnya 30 hari kerja maka penghasilan sebulan 1,2 juta, mungkin Ibu saya bekerja satu bulan tidak cukup untuk membelikan saya tiket pulang pergi ke tempat kerja. Memang pendidikanlah yang sudah menyelamatkan saya, dan beasiswa bidikmisi, dan kerja keras untuk mau maju.
Teringat di masa SMA dulu, ketika itu saya menyibukkan diri dengan segudang kegiatan ekstrakulikuler, organisasi dan diiisi dengan les tambahan, suatu ketika di sore hari (*kok jadi gini kata-katanya), ada seseorang dengan santainya mencibir “Aeng sibuk gen, nyen kal ganti?” (Sibuk banget kamu, mau ganti siapa?). Kata-kata dan ekspresi wajah orang tersebut masih tersimpan jelas dalam memori saya. Waktu itu saya hanya diam dan tak menjawab, sangat malas meladeni orang tua yang berkata seperti itu. Kini sudah hampir 7 tahun setelah kejadian itu, dan saya merasakan nikmat hasil dari kesibukan yang positif dulu. Saya memang tidak “mengganti” siapa-siapa, tapi saya menyelamatkan masa depan saya sendiri, masa depan keluarga saya, dan masa depan orang yang saya cintai dan akan saya jadikan keluarga. Lagi pula untuk apa menggantikan orang lain kalau kelak bisa menjadi figure diri sendiri yang nantinya orang lain ingin menggantikan. Mungkin saat ini saya masih berproses dalam menyususun masa depan, namun jika melihat rekan-rekan sebaya dilingkungan saya, khususnya di Bali, saya merasa sangat bersyukur. Banyak rekan saya yang harus membayar sekian puluh juta dulu untuk mendapatkan pekerjaan santai namun gajinya juga tidak seberapa, atau ada yang bekerja dengan gaji yang dibandingkan dengan biaya bensin untuk ketempat kerja ditambah tempat kos hampir sama. Apakah mereka salah memilih perkerjaan? Tentu saja tidak, ketiadaan pilihan lain membuatnya seperti itu. Tapi benarkah tidak ada pilihan? Atau mungkin kesalahan di masa lalu?
Di masa SMP dan SMA saya mungkin bisa dikatan kurang bergaul di lingkuangan pemuda di rumah. Hal ini dikarenakan saya lebih memilih untuk menyibukkan diri di sekolah. Dan terlebih lagi, ketika bergaul dilingkungan rumah, kebanyakan kegiatan diisi dengan duduk dipinggir jalan sambal menghabiskan rokok dan minuman, and I think its was so wasting time. Tapi untunglah, saat ini saya merasa bersyukur memilih untuk menyibukan diri di sekolah kala itu, sehingga banyak kemudahan yang saya peroleh sekarang. Trust me its work!
Selama pulang dari merantau, ada ada saja cerita dari orang tua saya yang membuat saya “geli”, beberapa rekan orang tua saya bertanya, “Siapa yang mencarikan kerja anaknya dan nyogok berapa?” Saya tertawa sekaligus emosi mendengar pertanyaan seperti ini. Saya yakin masih banyak mindset orang tua di Bali yang berpikir untuk mencari kerja kita harus punya relasi dan mau mengeluarkan uang terlebih dahulu. Saya yakin, jika kita orang Bali selalu berpikir seperti ini, maka sawah di Bali akan habis dijual untuk menyogok mencari kerja. Dan entah sampai berapa lama modal akan kembali untuk bisa membeli sawah lagi. Bayangkan saja, saya kuliah jauh-jauh keluar bali, lalu begitu selesai kuliah, saya meminta dicarikan pekerjaan kepada orang tua saya yang tidak pernah kuliah, lalu apa gunanya kuliah? Tentu saja itu adalah sebuah kesalahan. Hal ini yang selalu saya tekankan pada orang tua saya, kalau diluar sana saya masih bisa mencari kerja murni dengan kemampuan saya sendiri tanpa harus mengeluarkan dana sepeserpun. Saya berharap ada lebih banyak orang tua dan anak muda yang menyadari hal tersebut.
Tapi benarkah dengan tulisan sederhana ini mindset orang-orang akan berubah? Saya rasa tidak juga, mungkin benar perkataan orang tua di desa dulu, mungkin saya harus menggantikan posisi orang penting di Bali untuk menjelaskan maksud tulisan ini dan membuatnya menjadi nyata dan mudah dilakukan. Biarkan waktu menjawab sembari saya melanjutkan merantau mencari nafkah dan modal nikah.

Dalam hiruk pikuk bandara di Balikpapan
Made Sapta


Wednesday, June 14, 2017

Geodesi bekerja di Tambang


 Saat SMA, saya memutuskan untuk memilih jurusan Teknik Geodesi agar dapat bekerja di dunia pertambangan. Namun sewaktu kuliah peminatan saya mulai beralih ke bidang offshore tepatnya survey lepas pantai. Namun entah kenapa begitu mendpat pekerjaan, saya dijodohkan dengan dunia pertambangan. Memang mencari pekerjaan gampang-gampang susah, seperti mencari jodoh, kadang bisa cepat menemukan, kadang bisa cocok dan tidak cocok.
Oke kembali membahas Geodesi bekerja di dunia tambang. Umumnya seorang Geodet yang bekerja di tambang mengawali karir sebagai surveyor. Karena tentu saja dunia tambang tidak bisa lepas dari kegitan survey. Mulai dari survey awal untuk memetakan topografi, serta survey progress area tambang untuk perhitungan volume over burden maupun coal (apabila tambangnya, tambang batu bara). Namun geodesi tidak menutup kemungkinan untuk memasuki lowongan lain selain surveyor, seperti saya saat ini saya di kontrak sebagai Junior Mine Planner, yakni yang menangani arah perencanaan penambangan kedepannya, tentunya setelah saya di training terlebih dahulu menjadi seorang mine planner. Tentunya ada hal-hal diluar geodesi yang saya pelajari terlebih dahulu diluar dunia survey / Geodesi, sebelum menjadi mine planner, seperti misalnya spesifikasi unit, productivity, desain tambang, dan lain-lain.
Menurut saya Surveyor itu ibarat “matanya” Engineering dalam dunia tambang. Bagaimana tidak, desain yang dibuat oleh seorang mineplanner akan di stakeout oleh seoraang surveyor, maka yang paling tahu dimana posisi desain di gambar dengan dilapangan adalah seorang surveyor. Seorang surveyor akan memetakn kondisis tambang secara berkala dalam periode waktu yang rutin, maka surveyor akan tahu lebih terperinci setiap sudut kondisi topografi area yang ditambang. Volume juga biasanya dihitung oleh surveyor, dimana volume inilah dalah nilai yang akan dihitung menjadi value alias duit, yang menentukan untung ruginya perusahaaanya. Maka dari itu peranan surveyor di dunia tambang cukup vital. Saya merasa cukup termudahkan dengan background Geodesy, dan posisi saya sekarang sebagai Mine Planner, karena seorang perencana tidak dapat membuat perencanaan yang bagus tanpa “mata” yang bagus pula.
Oke mungkin itu sedikit gambaran Geodesi yang bekerja di tambang. Saya ingin berbai kisah suka dan duka bekerja di tambang. Suka duka ini saya alami setelah 6 bulan bekerja, mungkin bagi yang lebih senior atau sudah sepuh di tambang kish ini bisa berbeda-bed, tergantung orangnya.
Oke kita mulai dari dukanya:
1.      Umumnya jauh dari keluarga dan pacar
Sangat jarang ada tambang di tengah kota, umunya berada di tengah hutan, dan tentunya tidak semua orang mau mengajak keluarganya untuk tinggal di hutan.
2.      Jam kerja berbeda dari pegawai pada umunya
Jika biasanya di sabtu malam orang pergi bermalam minggu, jika bekerja di tambang mungkin malam minggu hanya tinggal kenangan, karena semua kalender berwarna hitam alias tidak pernah libur.
3.      Kulit hitam, kusam dan berdebu
Nmanya juga kerja ditambang, kalau ingin putih bersih, segeralah naik jabatan, maka kerjaan akan semakin santai.
            Oke sebaiknya tidak banyak duka yang sanya berikan lebih baik sukanya saja.
1.      Gaji lumayan
Terdapat berbagai tunjangan saat saya bekerja di tambang, tunjangan job site, tunjangan tetap, tunjangan jabatan dll, yang membuat nominal gaji bagi saya sudah lumayan di usia muda ini, di tambah lagi dengan adnya bonus produksi dan safety yang nominalnya berubah-ubah tergantung nilai kelebihan produksi.
2.      Segala fasilitas di tanggung
Umumnya perusaahaan tambang akan menyediakan tempat tinggal gratis, makan full, dan transport akan di tanggung selama pulang cuti, jadi gaji bisa didimpan selama bekerja.
3.      Sistem kerja roster
Yang ini mungkin berbeda-beda tiap perusahaan dan ada yang menganggap ini bukanlah bagian “suka”, tapi bagi saya kerja rostes cukup menguntungkan.Saya kerja 3 bulan dan mendapat jatah cuti 17 hari tanpa ada beban kera selama cuti. Jika saja sabtu minggu libur dan tidak ada cuti mungkin saja akan sulit untuk mudik, tapi jika roster saya sudah dapat memastikan kapan akan berada di rumah.
Oke mungkin itu saja tulisan kali ini mengenai Geodesi bekerja di tambang, ada banyak lowongan bagi sarjana Geodesi selain tambang, tambang hanyalah sebagian kecil saja.

Salam Geodesi
Made Sapta

Alumni Geodesi UGM 2012