Saturday, November 4, 2017

Merantau



Balikpapan, 4 November 2017
Hari ini saya menempuh perjalan cukup panjang. Saya akan menuju lokasi kerja saya, yakni di Tarakan. Dari Denpasar terlebih dahulu saya harus terbang ke Surabaya untuk transit selama 1,5 jam. Kemudian dari Surabaya saya terbang ke Balikpapan. Di Balikpapan saya menunggu 4 jam kemudian ganti pesawat. Baru kemudian terbang kembali ke Tarakan. Sampai di Tarakan saya belum benar-benar sampai di lokasi kerja, saya masih berada di support officenya saja, baru besok pagi saya naik speed boat untuk menuju lokasi kerja. Mungkin bagi seorang lulusan Geodesi, perjalanan ini adalah perjalanan biasa saja. Karena memang beberapa bidang pekerjaan terkait Geodesi berada tidak di pusat kota, dunia pertambangan salah satunya.
Namun kisah perjalanan ini mungkin akan berbeda jika diceritakan kepada Ibu saya, bibi saya, atau beberapa tetangga yang ada di desa. Naik pesawat adalah “barang mahal” di desa. Beberapa kali saya pulang kampung, ada saja yang menanyakan, “Nyen ajak mulih?” (Pulang dengan siapa?). Tentu saja jawabannya sendiri. Maka akan ada sebagian moms jaman old heran, “berani pulang sendiri??”. Hell yeaahh man!! Tentun saja berani. (Tentu saja tidak saya jawab seperti itu). Belum lagi saya jelaskan jika pulang dari Tarakan, saya harus 3 kali naik pesawat, menuju Balikpapan, turun di Makasar baru kemudian terbang ke Bali. Maka beberapa rekan Ibu saya yang sehari-hari bergelut dengan daging babi dengan upah 40 ribu per hari sama seperti Ibu saya akan mengatakan “Nak kude meli tiket pesawat?” (Berapa beli tiket pesawat?). Jawabannya adalah tiketnya dibelikan perusahaan, persetanlah dengan harganya. Tentu saja jika saya meminta uang kepada Ibu saya, dengan gaji 40 ribu sehari, sebulan misalnya 30 hari kerja maka penghasilan sebulan 1,2 juta, mungkin Ibu saya bekerja satu bulan tidak cukup untuk membelikan saya tiket pulang pergi ke tempat kerja. Memang pendidikanlah yang sudah menyelamatkan saya, dan beasiswa bidikmisi, dan kerja keras untuk mau maju.
Teringat di masa SMA dulu, ketika itu saya menyibukkan diri dengan segudang kegiatan ekstrakulikuler, organisasi dan diiisi dengan les tambahan, suatu ketika di sore hari (*kok jadi gini kata-katanya), ada seseorang dengan santainya mencibir “Aeng sibuk gen, nyen kal ganti?” (Sibuk banget kamu, mau ganti siapa?). Kata-kata dan ekspresi wajah orang tersebut masih tersimpan jelas dalam memori saya. Waktu itu saya hanya diam dan tak menjawab, sangat malas meladeni orang tua yang berkata seperti itu. Kini sudah hampir 7 tahun setelah kejadian itu, dan saya merasakan nikmat hasil dari kesibukan yang positif dulu. Saya memang tidak “mengganti” siapa-siapa, tapi saya menyelamatkan masa depan saya sendiri, masa depan keluarga saya, dan masa depan orang yang saya cintai dan akan saya jadikan keluarga. Lagi pula untuk apa menggantikan orang lain kalau kelak bisa menjadi figure diri sendiri yang nantinya orang lain ingin menggantikan. Mungkin saat ini saya masih berproses dalam menyususun masa depan, namun jika melihat rekan-rekan sebaya dilingkungan saya, khususnya di Bali, saya merasa sangat bersyukur. Banyak rekan saya yang harus membayar sekian puluh juta dulu untuk mendapatkan pekerjaan santai namun gajinya juga tidak seberapa, atau ada yang bekerja dengan gaji yang dibandingkan dengan biaya bensin untuk ketempat kerja ditambah tempat kos hampir sama. Apakah mereka salah memilih perkerjaan? Tentu saja tidak, ketiadaan pilihan lain membuatnya seperti itu. Tapi benarkah tidak ada pilihan? Atau mungkin kesalahan di masa lalu?
Di masa SMP dan SMA saya mungkin bisa dikatan kurang bergaul di lingkuangan pemuda di rumah. Hal ini dikarenakan saya lebih memilih untuk menyibukkan diri di sekolah. Dan terlebih lagi, ketika bergaul dilingkungan rumah, kebanyakan kegiatan diisi dengan duduk dipinggir jalan sambal menghabiskan rokok dan minuman, and I think its was so wasting time. Tapi untunglah, saat ini saya merasa bersyukur memilih untuk menyibukan diri di sekolah kala itu, sehingga banyak kemudahan yang saya peroleh sekarang. Trust me its work!
Selama pulang dari merantau, ada ada saja cerita dari orang tua saya yang membuat saya “geli”, beberapa rekan orang tua saya bertanya, “Siapa yang mencarikan kerja anaknya dan nyogok berapa?” Saya tertawa sekaligus emosi mendengar pertanyaan seperti ini. Saya yakin masih banyak mindset orang tua di Bali yang berpikir untuk mencari kerja kita harus punya relasi dan mau mengeluarkan uang terlebih dahulu. Saya yakin, jika kita orang Bali selalu berpikir seperti ini, maka sawah di Bali akan habis dijual untuk menyogok mencari kerja. Dan entah sampai berapa lama modal akan kembali untuk bisa membeli sawah lagi. Bayangkan saja, saya kuliah jauh-jauh keluar bali, lalu begitu selesai kuliah, saya meminta dicarikan pekerjaan kepada orang tua saya yang tidak pernah kuliah, lalu apa gunanya kuliah? Tentu saja itu adalah sebuah kesalahan. Hal ini yang selalu saya tekankan pada orang tua saya, kalau diluar sana saya masih bisa mencari kerja murni dengan kemampuan saya sendiri tanpa harus mengeluarkan dana sepeserpun. Saya berharap ada lebih banyak orang tua dan anak muda yang menyadari hal tersebut.
Tapi benarkah dengan tulisan sederhana ini mindset orang-orang akan berubah? Saya rasa tidak juga, mungkin benar perkataan orang tua di desa dulu, mungkin saya harus menggantikan posisi orang penting di Bali untuk menjelaskan maksud tulisan ini dan membuatnya menjadi nyata dan mudah dilakukan. Biarkan waktu menjawab sembari saya melanjutkan merantau mencari nafkah dan modal nikah.

Dalam hiruk pikuk bandara di Balikpapan
Made Sapta


Wednesday, June 14, 2017

Geodesi bekerja di Tambang


 Saat SMA, saya memutuskan untuk memilih jurusan Teknik Geodesi agar dapat bekerja di dunia pertambangan. Namun sewaktu kuliah peminatan saya mulai beralih ke bidang offshore tepatnya survey lepas pantai. Namun entah kenapa begitu mendpat pekerjaan, saya dijodohkan dengan dunia pertambangan. Memang mencari pekerjaan gampang-gampang susah, seperti mencari jodoh, kadang bisa cepat menemukan, kadang bisa cocok dan tidak cocok.
Oke kembali membahas Geodesi bekerja di dunia tambang. Umumnya seorang Geodet yang bekerja di tambang mengawali karir sebagai surveyor. Karena tentu saja dunia tambang tidak bisa lepas dari kegitan survey. Mulai dari survey awal untuk memetakan topografi, serta survey progress area tambang untuk perhitungan volume over burden maupun coal (apabila tambangnya, tambang batu bara). Namun geodesi tidak menutup kemungkinan untuk memasuki lowongan lain selain surveyor, seperti saya saat ini saya di kontrak sebagai Junior Mine Planner, yakni yang menangani arah perencanaan penambangan kedepannya, tentunya setelah saya di training terlebih dahulu menjadi seorang mine planner. Tentunya ada hal-hal diluar geodesi yang saya pelajari terlebih dahulu diluar dunia survey / Geodesi, sebelum menjadi mine planner, seperti misalnya spesifikasi unit, productivity, desain tambang, dan lain-lain.
Menurut saya Surveyor itu ibarat “matanya” Engineering dalam dunia tambang. Bagaimana tidak, desain yang dibuat oleh seorang mineplanner akan di stakeout oleh seoraang surveyor, maka yang paling tahu dimana posisi desain di gambar dengan dilapangan adalah seorang surveyor. Seorang surveyor akan memetakn kondisis tambang secara berkala dalam periode waktu yang rutin, maka surveyor akan tahu lebih terperinci setiap sudut kondisi topografi area yang ditambang. Volume juga biasanya dihitung oleh surveyor, dimana volume inilah dalah nilai yang akan dihitung menjadi value alias duit, yang menentukan untung ruginya perusahaaanya. Maka dari itu peranan surveyor di dunia tambang cukup vital. Saya merasa cukup termudahkan dengan background Geodesy, dan posisi saya sekarang sebagai Mine Planner, karena seorang perencana tidak dapat membuat perencanaan yang bagus tanpa “mata” yang bagus pula.
Oke mungkin itu sedikit gambaran Geodesi yang bekerja di tambang. Saya ingin berbai kisah suka dan duka bekerja di tambang. Suka duka ini saya alami setelah 6 bulan bekerja, mungkin bagi yang lebih senior atau sudah sepuh di tambang kish ini bisa berbeda-bed, tergantung orangnya.
Oke kita mulai dari dukanya:
1.      Umumnya jauh dari keluarga dan pacar
Sangat jarang ada tambang di tengah kota, umunya berada di tengah hutan, dan tentunya tidak semua orang mau mengajak keluarganya untuk tinggal di hutan.
2.      Jam kerja berbeda dari pegawai pada umunya
Jika biasanya di sabtu malam orang pergi bermalam minggu, jika bekerja di tambang mungkin malam minggu hanya tinggal kenangan, karena semua kalender berwarna hitam alias tidak pernah libur.
3.      Kulit hitam, kusam dan berdebu
Nmanya juga kerja ditambang, kalau ingin putih bersih, segeralah naik jabatan, maka kerjaan akan semakin santai.
            Oke sebaiknya tidak banyak duka yang sanya berikan lebih baik sukanya saja.
1.      Gaji lumayan
Terdapat berbagai tunjangan saat saya bekerja di tambang, tunjangan job site, tunjangan tetap, tunjangan jabatan dll, yang membuat nominal gaji bagi saya sudah lumayan di usia muda ini, di tambah lagi dengan adnya bonus produksi dan safety yang nominalnya berubah-ubah tergantung nilai kelebihan produksi.
2.      Segala fasilitas di tanggung
Umumnya perusaahaan tambang akan menyediakan tempat tinggal gratis, makan full, dan transport akan di tanggung selama pulang cuti, jadi gaji bisa didimpan selama bekerja.
3.      Sistem kerja roster
Yang ini mungkin berbeda-beda tiap perusahaan dan ada yang menganggap ini bukanlah bagian “suka”, tapi bagi saya kerja rostes cukup menguntungkan.Saya kerja 3 bulan dan mendapat jatah cuti 17 hari tanpa ada beban kera selama cuti. Jika saja sabtu minggu libur dan tidak ada cuti mungkin saja akan sulit untuk mudik, tapi jika roster saya sudah dapat memastikan kapan akan berada di rumah.
Oke mungkin itu saja tulisan kali ini mengenai Geodesi bekerja di tambang, ada banyak lowongan bagi sarjana Geodesi selain tambang, tambang hanyalah sebagian kecil saja.

Salam Geodesi
Made Sapta

Alumni Geodesi UGM 2012

Thursday, December 15, 2016

Menghitung Productivity Excavator




Membahas mengenai productivity tak pernah lepas dengan yang namanya Kapasitas dan Cycle Time. Sebagai seorang yang newbie di dunia tambang saya mencoba untuk menuliskan setiap ilmu baru yang saya dapat, bagi sebagian orang yang sudah berkecimpung lama di dunia tambang, mungkin tulisan ini hanya berisi butiran debu yang ilmunya sudah biasa diterapkan, namun bagi saya ini adalah hal yang baru dan jika saya konsisten menuliskannya dari awal saya berkarir di tambang sampai suatu hari ini berhenti, butiran debu ini dapat menjadi badai debu yang disegani banyak orang.
Oke kembali lagi ke productivity, kali ini saya membahas productivity Excavator . Dalam proses penambangan terdapat 3 tahapan utama yakni gali, muat dan angkut. Exca termasuk ke dalam alat yang digunakan dalam proses gali dan muat. Dalam melakukan penggalian terdapat beberapa macam tipe excavator, masing-masing exca memiliki kapasitas bucket yang berbeda-beda. Jika melihat kembali definisi productivity, yakni. productivity adalah jumlah produksi yang di dapat suatu unit dalam satu periode waktu tertentu, maka bisa dikatakan productivity exca yakni berapa material yang dapat digali dan dimuat exca dalam satu periode waktu tertentu. Untuk mengetahui  productivity exca, yang perlu kita ketahui yakni kapasitas bucketnya, serta waktu yang diperlukan unntuk melakukan satu kali gali dan muat yang disebut dengan satu kali cycle time. Secara matematis rumus productivity exca dapat dicari dengan persamaan:

            Inti dari rumus diatas yakni berapa volume material yang didapat dalam waktu satu jam, sehingga satuan productivity diatas yakni m3 / jam. Jika ditelaah satu persatu penjelasan dari persamaan diatas yakni, angka 3600 yakni angka konversi dari waktu cycle time yang awalnya detik agar hasil akhir bisa m3/jam maka perlu dikali 3600. Kemudian kapasitas bucket adalah material maksimal yang mampu diisi oleh excavator, sebagai contoh, excavator type 1250 memiliki kapasitas  bucket 6.7 m3.
Kemudian ada bucket fill factor, jika tadi kapasitas maksimal bucket exca 1250 adalah 6.7 m3 , namun apakah setiap kali menggali material isinya selalu penuh 6.7 m3 ? Tentunya tidak, mungkin saja akan kurang dari 6.7 m3 , atau pada kondisi material tertentu bisa lebih dari 6.7 m3 , maka dari itu perlu faktor pengali sebagai nilai yang muncul akibat adanya penggalian dan pemuatan material yang tidak selalu tepat dengan kapasitas bucket, faktor pengali tersebut kemudian yang disebut dengan bucket fill factor. Contohnya pada saat proses gali dan muat, bucket exca tidak selalu memuat penuh material pada bucketnya maka nila bucket fill factor bisa bernilai 0.8, atau 80% dari kapasitas bucketnya.
Selanjutnya ada faktor koreksi, faktor koreksi ini bisa bermacam-macam hal. Misalnya kemampuan operator bisa berbeda-beda, atau konidisi medan yang berbeda-beda satu tempat dengan lainnya, maka dari faktor-faktor tersebut juga perlu diperhitungkan. Biasanya nilai faktor koreksi ini diperkirakan berdasarkan pengamatan dalam periode waktu tertentu. Atau derange berdasarkan kondisi dilapangan. Misalnya kondisi medan tempat dudukan yang bagus dan mudah untuk melalukan penggalian, nilainya bisa 0.9.
Faktor selanjutnya yang penting adalah faktor konversi. Material penambangan pada saat sebelum digali dan ketika sudah digali memiliki volume yang berbeda. Misalnya saja batubara, ketika belum digali, volumenya disebut bank cubic metric (bcm), sedangkan ketika sudah digali volumenya membersar dan disebut loose cubic metric (lcm), selanjutnya ketika dipadatkan volumenya akan mengecil dan disebut compact cubic matrik (ccm). Umumnya produksi batubara yang dihitung dalam satuan bcm, sedangkan material nyata yang didapat adalah dalam kondisi loose (lcm), maka dari itu perlu dikonversi volume lcm menjadi bcm. Faktor konversii ini umumnya disebut swell factor. Mungkin perlu satu artikel lagi untuk menjelaskan mengenai swell factor. Akan diulas ditulisan berikutnya.
Kemudian cycle time yang ada dalam rumus yakni waktu 1 kali menggali, 1 kali swing (memutar bucket), waktu menumpahkan material ke unit angkut, dn waktu swing kosong.
Sekian dulu mungkin yang bisa saya sampaikan kali ini mengenai productivity, berikutnya tentunya ada butiran debu berikutnya.

Made Sapta
saptahadi9@gmail.com

Friday, December 9, 2016

Memahami Availability dalam Unit Tambang




Faktor yang sangat penting dalam melakukan penjadwalan suatu alat yakni faktor availability dari setiap unit. Untuk memudahkan memahami maksud availability diambil contoh, misalnya suatu bulldozer memiliki availability 80%, maka dalam jam kerja 100 shift, unit bulldozer tersedia dalam 80 shift, sedangkan waktu 20 shift lainnya adalah waktu yang hilang, bisa dikarenakan perbaikan atau kejadian lain yang menyebabkan unit tidak dapt digunakan.
Secara umum ada 2 cara menghitung equipment availability:
1.      Mechanical Availability: faktor availability yang menunjukkan kesiapan (available) suatu alat dari waktu yang hilang dikarenakan kerusakan atau gangguan alat (mechanical reason).
2.      Physical availability: Faktor availability yang menunjukkan berapa jam (waktu) suatu alat dipakai selama jam total kerjanya. Jam kerja terdiri dari working hours, repair hours, dan standby hours.
Mechanical Availability
Persamaan untuk menghitung mechanical availability yakni:
            MA = working hours /(working hours + repair hours) x 100%
Working hours yang dimaksud yakni waktu yang dimulai dari operator /crew berada di satu alat dan alat tersebut berada dalam kondisi operable (mesin dan bagian-bagian lain siap dipakai operasi). Working hours ini termasuk delay time. Working hours ini dapat diperoleh dari :
1.      Pencatatan pada operator time card
2.      Hours meter dari alat
Sedangkan repair hours meliputi waktu actual repair, waiting for repair,  waiting for part, waaktu yang hilang untuk maintenance/perawatan.
Physical Availability
Persamaan untuk menghitung physical availability:
PA = (working hours + standby hours) / (working hours + repair hours +standby hours) x100%
            Standby hours yakni waktu dimana alat siap pakai (tidak rusak), tetapi karena satu dan lain hal tidak dipergunakan ketika operasi penambangan sedang berlangsung. Physical availability merupakan faktor availability yang penting untuk menyatakan unjuk kerja mechanical alat dn juga sebgai petunjuk terhadap efisiensi mesin dalam program penjadwalan.
            Selain kedua cara di atas (mechanical dan physical availability), masih ada dua faktor lagi untuk mengoreksi jam kerja alat yang sesungguhnya, yaitu:

1.      Used of Availability (UA)
UA =  workin hours / (working hours + standby hours) x 100%
Dari UA dapat diketahui apakah suatu pekerjaan berjalan dengan efisien atau tidak dan pengelolaan alat berjalan dengan baik atau tidak.
2.      Efective Utilization (EU)
EU = working hours / (working hours + repairs hours + standby hours) x 100%

Refrensi: Indonesianto, Yanto,2013,Pemindahan Tanah Mekanis

Friday, October 28, 2016

The Power of Love

Sesayap, 28 Oktober 2016



Hari ini adalah hari pertama saya off  kerja selama satu hari, setelah hampir dua minggu melaksanakan On Job Training di sebuah  perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor pertambagan batubara. Bekerja di daerah pedalaman yakni Desa Bebatu, Kecamatan Sesayap, Kalimantan Utara, tentunya menimbulkan kerinduan yang mendalam pada orang-orang terkasih yang harus ditinggalkan. Sinyal yang kurang stabil, jauh dari kota harus saya jalani disini. Jauh dari keluarga bukanlah pertama kali saya alami, selama kuliah memang sudah terbiasa jauh dari keluarga.
            Berada di tempat yang jauh dari keluarga terutama ketika bekerja, menjadi tantangan tersendiri. Salain keluarga, adalah Dewa Ayu Wahyu Risnaadi yang menjadi alasan utama bekerja keras dan bekerja cerdas demi menjamin kesejahtraanya di masa depan. Memang kekuatan cinta dapat merubah segalanya, begitu pula blog ini yang awalnya berisis materi Geodesi, sekarang lebih menyenangkan untuk menuliskan isi hati atas rasa rindu yang mendalam pada sang kekasih.
            Tentunya tidak ada yang ingin berada jauh dengan orang yang sangat dicintai, begitu pula saya yang tentunya ingin selalu berada dekat dengan Dewa Ayu Wahyu, namun ada beberapa kondisi yang memang harus berada jauh beberapa saat untuk kemudian dapat bersama selamanya dengan kondisi yang damai dan sejahtera tanpa kurang apapun. Dewa Ayu menjadi penguat saya untuk berkarir dimanapun dan sejauh apapun, yang membuat saya yakin yakni rasa sabarnya dan penuh pengertian mendampingi mulai dari saya belum menemukan judul skripsi, hingga saat ini sudah bekerja. Dan pada akhirnya diapun yang menjadi alasan untuk kembali pulang ke dalam pelukan dan dekapan hangat cintanya.
            Malam ini begitu sunyi di Sesayap, entah apa yang sedang dipikirkan dewa ayu yang jauh disana. Terkadang muncul rasa kegelisahan akan takut kehilangan, namun setelah mengingat apa yang sudah dilalui bersama, semuanya akan baik-baik saja.
            Tak semua rasa rindu dapat saya tuangkan ke dalam tulisan malam ini. Jadwal kerja sudah menanti esok pagi, dan semuanya harus dilakukan dengan semangat demi masa depan yang lebih baik bersama kekasih hati.


Dalam Kerinduan Yang Mendalam
Untuk Dewa Ayu Wahyu Risanaadi
Made Sapta
           


Monday, August 8, 2016

Memainkan Peran Kehidupan


8 Agustus 2016, 10:49 PM
Malam ini begitu sunyi, walau headset dengan music genre punkrock sudah terpasang di telinga, namun sunyinya malam masih bisa dirasakan. Kali ini saya mencoba menuliskan timeline kegiatan yang ingin saya kerjakan besok, ada banyak pikiran terlintas untuk dilakukan besok. Namun sembari memikirkan hal tersebut, entah kenapa pikirian ini selalu menyukai kenangan masa lalu sampai pada akhirnya mengingatkan kenapa sampai saat ini saya bisa duduk di depan laptop dengan santai di Jogja yang sangat jauh dari rumah. Perasaan saya baru kemarin sore Ibu saya menyuruh saya menyuruh membantu membersihkan kotoran babi di kandangnya. Padahal babi-babi itu sudh lama dijual semuanya untuk biaya hidup. Tapi percayalah foto dibawah ini adalah hasil jepretan saya sendiri ketika kelas 1 SMA ketika masih memelihara banyak babi.


            Kali ini saya benar-benar berasa memasuki tahadapan kehidupan yang baru. Tadi pagi sempat bertemu mahasiswa angkatan 2015, dan sempat mengobrol singkat. Pernyataannya yang masih terngiang dalam benak saya, ketika saya mengatakan akan wisuda bulan ini, adik kelas itu menjawab dengan santainya “Wah sudah senang ya”. Dalam hati saya sebenarnya ingin menegurnya dengan serius, percayalah berhasil wisuda itu hanyalah kenikmatan sesaat, tanggung jawab yang sebenarnya datang ketika selesai wisuda. Ketika akan wisuda, meminta uang jajan kepada orangtua tidaklah lagi hal yang ingin saya lakukan, ketika ada beberapa rekan seangkatan yang sudah nikah muda, disana juga akan mulai berpikir kapan akan siap untuk menjaga anak orang dengan siap secara mental dan materi. Sepertinya saya sudah akan berganti peran, dari mahasiswa yang mencari ilmu, ke orang yang siap menerapkan ilmu guna memperoleh materi. Jika dalam Hindu mungkin masa ini adalah masa-masa peralihan Brahmacari (menuntut ilmu) menuju Grahasta (berkeluarga), walaupun Grahasta yang sebenarnya masih 2 – 4 tahun lagi, tergantung negosiasi dengan Dewa Ayu Wahyu Risnaadi pada waktu yang entah itu kapan.
            Duduk termenung malam ini memikirkan hari wisuda, terkadang membuat saya tidak percaya. Anak dari desa, kecil terbiasa dengan kandang babi, bermain ke sawah, SD di pinggir sawah dan kuburan, sepanjang sejarah keluarga belum ada yang pernah kuliah hingga sarjana, dan kini saya mendapatkan hal yang mungkin orang tua, kakek dan nenek serta mbah buyut tidak akan pernah bayangkan, atau jika memimpikannya saja Ibu saja sudah lebih dulu akan menghakimi dirinya tidak akan mampu sebelum mencoba. Saya sangat bersyukur memainkan peran ini. Pernah menjadi anak desa yang sebenarnya, pernah menjadi anak kota karena ketika SMA pindah ke kota dan kuliah menjadi anak rantauan dengan mendapat fasilitas pendidikan yang baik. Menjadi anak desa yang sebenarnya, mengajarkan saya untuk menghormati dan lebih ramah terhadap orang disekitar, mengajarkan saya untuk pandai membuat klatkat, sengkui, dan klangsah untuk upacara agama. Ketika di kota pelajaran itu mulai jarang diterapkan. Namun di kota membuat saya lebih maju dalam hal teknologi, pergaulan dengan teman-teman yang mempunyai orientasi belajar yang tinggi membuat saya lebih melek akan informasi dan teknologi-teknologi yang mungkin akan memudahkan umat manusia terutama orang desa yang sebenarnya yang cenderung kalah cepat akan perkembangan teknologi dengan yang ada di kota. Maka beruntunglah saya yang pernah berada pada posisi keduanya. Dan yang lebih beruntung lagi ketika saat ini saya mendapatkan peran sebagai mahasiswa di Jogja, sebagai mahasiswa di lingkungan yang sangat bagus, UGM.
            Baru tadi siang saya membawa proposal pembuatan alat kegeodesian untuk diserahkan kepada dosen saya. Dosen saya dengan santainya mengatakan “Nanti kamu urus ini ya”, tentu saja saya mengiyakan karena memang dari awal saya sudah mempelajari dan mempersiapkan segalanya, dan bagi saya itu hal yang wajar setelah apa yang saya lalui selama ini bersama dosen. Namun dalam sisi lainnya saya sebagai anak Desa, bagi saya yang anak desa sebenarnya, nama saya diingat dosen saja merupakan suatu prestasi yang membangkan, apalagi bisa mengerjakan penelitiannya bisa dibayangkan bagaimananya senangnya sebenarnya. Jika saya besar di Kota saya kadang berpikir apakah saya akan sama seantusias ini seperti orang desa yang selalu merasa rendah, maka ketika ada orang hebat seperti misalnya dosen yang minta tolong saya akan menjadi sangat antusias untuk membantu?? Menjadi orang desa, dan merasa rendah terkadang tidak selalu buruk, saya menjadi sangat menghormati dan antusias ketika bertemu dosen atau pimpinan, karena merasa tidak banyak kesempatan untuk terkoneksi dengan orang-orang hebat. Namun walau begitu, kehidupan di kota dan dirantauan mengajarkan saya dimana ada waktunya percaya diri dan sedikit mengurangi rendah diri. Berporses dalam kedihupan, seperti memainkan banyak peran, namun peran sebelumnya masih terkait dan membekas dalam menjalani peran berikutnya.
            Entah apa yang saya pikirkan malam ini, sepertinya imaginasi malam ini terlalu mencar kemana mana. Peran berikutnya mungkin peran kehidupan yang membuat saya sedikit gelisah akan apa yang akan saya dapatkan. Manusia bisa berusaha dan berdoa, tapi tentunya sudah ada penentunya.

Dalam syukur atas segala peran yang diberikan oleh-Nya

Made Sapta