Friday, October 16, 2015

Mencuci Motor


Jumat, 17 Oktober 2015
            Sore ini ada sedikit tugas peting yang terselesaikan, baru saja menyelesaikan dua ujian tengah semester yang cukup penting, Pasang Surut Laut dan Survei Rekayasa Laut. Hampir saja “mabuk laut” mempelajari keduanya tapi syukurlah masih bisa bertahan. Dua mata kuliah ini penting karena saya ingin menjadi “pakar” dibidang ini. Kali ini saya tidak akan membahas kedua matakuliah ini, melainkan hal yang lainnya.
            Pagi tadi baru saja ingin berangkat kuliah, baru 500 meter membawa motor tiba-tiba saja ada yang aneh dangan jalanan yang saya lintasi, terasa tidak semulus biasanya. What the hell!! Siapa yang ngerusakin jalan. Begitu lihat ke belakang, ternyata bukan jalannya, tapi ban motor saya yang bocor. Untung masih dekat dengan kos, akhirnya balik lagi ke kos dan minta diantarkan teman. Sepertinya motor inisial M.I.O ini sedikit ngambek. Sore hari selesai kuliah langsung saya tuntun motor saya menuju bengkel terdekat. Ke tempat biasa di jalan Pandega Marta, bengkel kecil sederhana dengan Bapak-bapak yang cekatan memperbaiki motor.
“Ganti ban Pak, luar dalem ya, yang belakang aja.” Kondisi ban yang sudah sangat halus memaksa saya harus mengganti ban luar dan dalam. Sebenarnya sudah harus diganti  dari dulu, namun apa daya baru ada dana sekarang. “Yang depan tidak sekalina diganti Mas?” tanya Pak Bengkel kala mengganti ban. “Lain waktu saja Pak kalau sudah ada rejeki”. Yah untuk mengganti ban saya harus benar-benar menunngu kondisi keuangan yang tepat, maklum kuliah dari beasiswa Bidikmisi. Kebetulan sekali kemarin beasiswa Bidikmisi baru keluar setelah telat hampir dua bulan. Sebelum dipakai untuk kebutuhan yang lainnya, saya gunakan dulu untuk ganti ban. Tidak sampai satu jam, ban motorpun sudah menjadi baru. Namun masih ada yang kurang rasanya, motor saya penuh dengan debu. Saatnya mencuci. Tidak perlu ketempat cucian motor, cukup baawa ke kos dan cuci sendiri. Lumayan dengan air gratis dari ibu kos, kit shampoo Rp. 1000, kit magic Rp. 2000, motor ini akan saya ubah penampilanya.
Kala menggosok sepion motor, tercermin muka saya senidiri, ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam sewaktu SMA kelas 3. Kala itu saya “diusir” dari rumah membawa motor. Saat itu pikiran saya kosong tak karuan membawa motor, tak tau arah dan tujuan, hanya mengikuti jalan utama entah sampai mana. Saya diusir bukan karena saya melakukan suatu kesalahan atau kenakalan, tapi memang untuk membawa motor ini jauh dari rumah. Maklum motor ini sudah jatuh tempo dan harus dibayar cicilannya. Entah sudah beberapa bulan tidak dibayar. Maklum saat itu ada sedikit musibah yang menimpa keluarga, jadi memang benar-benar belum bisa membayar cicilan. Sepajang perjalanan saya hanya merenungi keadaan. Entah apa yang harus saya lakukan agar bisa membantu orangtua saat itu. Pikiran kosong, dunia terasa hitam putih, dan motor-motor lalu lalang disebelah saya terasa tak bersuara dan hanya lewat penuh ego. Sedih, kacau, dan tak berdaya bercampur aduk kala itu.
Entah kenapa tiba-tiba diperjalana ada “cahaya terang” yang membuka pikiran saya. Kemudian ada yang berbisik, “kamu sudah disiapkan untuk keadaan ini, dan kamu yang akan mengubahnya menjadi lebih baik”. Saat itu saya sadar, saya yang termuda saat ini didalam keluarga, dan saya masih punya masa depan yang panjang, tentu saja saya tidak ingin keadaan keluarga saya akan terus seperti ini. Saya akan merubah semuanya. Saat itu juga Tuhan terasa sangat dekat dan hangat, entah dari mana datangnya.  Seketika saya merubah haluan, dan mulai mengarah ke restoran terbaik di kota saya. Bukan untuk makan, saya hanya membeli segelas es teh, dan mulai membuka buku persiapan SNMPTN yang kebetulan saat itu saya bawa untuk persiapan mencari kuliah. Saya sadar usaha terbaik yang bisa saya lakukan untuk membantu keluarga  saat itu adalah belajar, tak malu saya berdiam diri lama disebuah restoran mewah dengan hanya memesan es teh, dan belajar seharian disana, suasananya yang tenang membuat saya betah disana.
Tidak terasa saya sudah hampir selesai mencuci motor. Pikiran kemana-mana membuat mencuci motor terasa cepat. Sedikit demi sedikit usaha dan kerja keras dulu membuahkan hasil. Kini saya kuliah dengan beasiswa, juga ada sedikit tambahan dari jualan buku dan membantu-bantu dosen. Dengan motor yang masih sama, tapi sudah lunas, terkadang saya juga sering lupa bersyukur. Dan akhirnya tulisan ini pun ada untuk mengingatkan saya kembali untuk bersyukur, atas apa yang Tuhan bisikan kepada saya dulu, dan agar kedepannya selalu diingatkan untuk menjadi lebih baik. Tulisan ini tidak mengajarkan untuk mencuci motor dulu sebelum bersyukur, tulisan ini mengajarkan untuk tidak pernah menyerah apapun cobaan yang diberikan oleh-Nya, karena sesuguhnya hal yang sulit itu bukanlah cobaan, melainkan sebuah pelajaran baru yang Tuhan ingin saya atau anda kuasai.

Salam
Made Sapta