Saturday, October 3, 2015

Keluarga di Perantauan


Saya pertama kali datang ke Jogja pada tahun 2012. Kala itu akan melaksanakan registrasi ulang di UGM. Pertama ke UGM, saya menumpang dengan keluarga teman saya yang saat itu juga melaksanakan registrasi ulang. Kebetulan sekali masih ada sisa satu kursi di tempat duduk belakang, berbeda dengan teman saya yang diantar sekeluarga, kali ini saya menumpang diantara keluaga teman tanpa ada keluarga saya yang ikut. Sebenarnya agak was-was ketika pertama kali ke Jogja dan akan tinggal di Jogja, saya tidak ada saudara atau sepupu di Jogja. Orang tua juga jarang ke luar Bali, Ibu saya hanya ke Jawa sekali ketika ia study tour saat SMA, sedangkan Bapak saya malah belum pernah ke Jawa sampai sekarang. Perlu penjelasan yang cukup matang dan meyakinkan saat itu untuk dapat meyakinkan orangtua saya bahwa saya akan baik-baik saja selama kuliah di Jawa. Kekhawatiran tentunya akan berbeda ketika orang tua menyekolahkan anaknya di tempat yang jauh dari rumah, yang dimana orangtuanya juga tidak paham dengan benar bagaimana kondisi lokasi tempat sekolah.
Kini sudah hampir tiga tahun berlalu, kini definisi pulang tidak hanya berlaku ke Bali tapi juga bisa ke Jogja. Tiga tahun sudah cukup membuat Jogja menjadi seperti rumah. Syukurlah, tiga tahun sudah berlalu sepertinya saya sudah mulai berhasil membentuk beberapa “keluarga” di Jogja. Persahabatan dengan beberapa orang yang baik, yang entah kenapa sepertinya ada tangan Tuhan yang membantu mempertemukan dengan orang-orang yang baik yang dengan mudah saya anggap  seperti keluarga
sendiri.
Kini sudah satu tahun lebih satu bulan saya tidak pulang ke Bali, ada beberapa faktor yang membuat saya tidak bisa pulang ke Bali. Terkadang ketika lelah dengan banyaknya tugas kuliah, ketika uang jajajn sudah benar-benar habis, ketika mulai lelah untuk selalu menjadi yang terbaik, ada kegalauan yang mendalam ingin pulang dan berkumpul bersama keluarga. Namun ketika hal itu tidak bisa didapat, maka saya sangat mensyukuri masih ada keluarga di Jogja yang bisa mengobati segala kerinduan. Adalah Denika dan Cahya teman kos yang juga teman satu SMA yang selalu ada ketika susah dan senang, yang akan selalu ada ketika jomblo dan tidak jomblo.
 Pak Andi yang sudah saya anggap seperti orangtua sendiri, beserta keluarganya yang sangat hangat dan ramah. Ketika ada hal penting yang saya bingung untuk putuskan, beliau adalah orangtua yang akan pertama kali saya mintai nasihat. Selalu menyenangkan ketika menceritakan pengalaman unik atau menarik yang baru saya dapat ke beliau.
Mas Denni beserta keluarga betterlife, sosok yang saya jadikan panutan dalam bekerja dan melakukan management diri, ikut membantu di tempat fitness mulai dari tempat fitnessnya baru dibangun sampai sekarang sudah sangat ramai, sudah cukup membuat saya menganggap Mas Denni seperti kakak sendiri.
Mbak Dessy dan Mas Bagas, 2 kakak di Geodesi yang selalu memberikan pengalaman baru kepada saya terkait bidang Geodesi, dua kakak yang akan selalu membantu saya setiap ada permasalahan di dalam kuliah. Keluarga lainnya tentunya seluruh anggota keluarga mahasiswa Teknik Geodesi, merupakan bagian dari keluarga besar saya di Jogja. Baru-baru ini juga setelah mengikuti KKN, kini saya mempunyai keluarga baru tidak hanya di Jogja, tapi juga di Pulau Seliu, Belitung.
“Dia” yang baru-baru ini menemani malam minngu serta malam minngu yang akan datang, semoga juga bisa bergabung ke dalam bagian keluarga dalam artian yang sebenarnya J
Ketika orang tua saya nanti akan ke Jawa untuk ikut wisuda bersama saya, saat itu saya akan dengan mudah mengatakan, “Jangan pernah takut keluar Bali, sekarang kita punya banyak keluarga di luar sana”. Pendidikan memang membuat beberapa hal menjadi lebih mudah, dan semoga apa yang saya pelajari selama di Jogja ini bisa merubah hidup saya menjadi lebih baik, dan merubah hidup orang lain yang masih berjuang seperti saya saat ini.

Dalam kegigihan menggapai masa depan yang lebih baik – Made Sapta