Saturday, November 14, 2015

Batas Maritim Indonesia: Sengketa, Peluang atau Penghubung?



Mendengar kata batas maritim Indonesia, yang pertama saya bayangkan adalah sengketa atau konflik. Hal ini tentu saja karena dibeberapa waktu lalu terdapat pemberitaan yang bisa dikatakan kurang baik di wilayah perbatasan, sepertinya adanya penangkapan nelayan, terjadi penyelundupan barang illegal di wilayah perbatasan, sampai dengan adanya saling klaim wilayah di perbatasan. Tapi apakah benar batas maritim hanya melulu soal konflik untuk saling adu klaim? Belajar tentang batas maritim, ternyata persepsi batas maritim sebagai lokasi yang sering terjadi sengketa tidaklah hanya terjadi di Indonesia, ada juga beberapa negara lain yang mengalami konflik karena wilayah batas maritim. Salah sau contohnya misalnya kasus di wilayah laut Cina Selatan yang melibatkan beberapa negara dalam perundingan batas.
Indonesia yang karena letak geografisnya berbatasan dengan sepuluh negara tetangga, bisa dibayangkan seberapa komplek penyelesaian batas maritim dengan sepuluh negara tetangga tersebut. Tapi apakah karena letak geografis Indonesia ini, Indonesia menjadi dirugikan karena harus mengurus banyak batas maritim dengan negara tetangga? Jika ditinjau dari cita-cita pemerintah Indonesia saat ini, yakni menjadi poros maritim dunia, Indonesia yang berbatasan dengan sepuluh negara tetangga bisa merupakan menjadi sebuah peluang. Peluang yang dimaksud yakni peluang untuk benar-benar menjadi poros maritim dunia. Dengan berbatasan dengan banyak negara, Indonesia bisa memiliki banyak studi kasus terkait penetapan batas maritim. Jika Indonesia dapat menyelesaikan segala permasalahan batas maritim dengan tepat dan bijak, maka akan sangat mungkin masyarakat dunia akan mengacu pada sistem atau metode yang dipakai Indonesia dalam menyelesaikan berbagai konflik batas maritim. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nyata dari konsep poros maritim dunia itu sendiri. Selain peluang untuk mendukung menjadi poros maritim dunia, kondisi batas maritim Indonesia ini juga sangat memberikan peluang pembelajaran, penerapan ilmu, serta berdiplomasi khususnya bagi surveyor dalam menangani masalah teknis serta ahli hukum atau politik dalam melakukan diplomasi.  
Sebenarnya ada satu lagi tanggapan saya mengenai batas maritim Indonesia. Wilayah perairan yang berada diantara dua Negara yang saling bertetangga, terkadang tidak hanya menjadi pembatas, tapi juga merupakn penghubung. Indonesia yang secara maritim berbatasan dengan sepuluh negara tetangga bisa memiliki koneksi atau keterhubungan yang erat dengan kesepuluh negara tetangga tersebut. Jika dikelola dengan baik, negara yang jaraknya saling berdekatan bisa jadi dapat melakukan kerjasama yang lebih mudah dibandngkan dengan negara yang letaknya secara geografis salaing berjauhan. Begitu pula dengan Indonesia, sangat berpotensi untuk menjalin hubungan atau kerjasama dengan negara tetangga dalam berbagai hal positif yang saling menguntungkan.

Jadi bagi saya, batas maritim Indonesia dapat menjadi sumber konflik, namun juga dapat menjadi peluang yang sangat menguntungkan bagi Indonesia, dan juga dapat menjadi sarana penghubung dengan negara-negara lainnya.