Saturday, March 12, 2016

Real Time Monitoring, Solusi Penyelamatan Bendungan Indonesia

Real Time Monitoring, Solusi Penyelamatan Bendungan Indonesia


            Di era pemerintahan presiden Jokowi, pembangunan infrastruktur menjadi fokus yang cukup dominan. Salah satunya yakni pembangunan bendungan yang tersebar di seluruh Indonesia. Tercatat di tahun 2016 ini, pemerintah melalui Kementerian PU dan Perumahan Rakyat mencanangkan untuk membangun 8 bendungan baru dari total 49 bendungan yang rencananya dibangun hingga tahun 2019.[1]
            Sebagai Negara agraris, bendungan memiliki peran yang cukup penting, terutama dalam hal irigasi. Kebutuhan akan beras sebagai konsumsi utama masyarakat Indonesia tentunya akan dapat terpenuhi apabila sawah-sawah yang ada di Indonesia mendapat aliran air yang baik. Jadi secara tidak langsung program pembangunan bendungan juga penting dalam mendukung ketahanan pangan di Indonesia.
            Membangun sebuah bendungan bukanlah perkara yang gampang. Perlu studi kelayakan, uji ketahanan bendungan dan tentunya perawatan yang rutin ketika bendungan itu sudah selesai dibangun. Tak jarang bendungan yang baru dibangun, atau yang terlihat kokoh bisa juga jebol dan menimbulkan bencana. Sebagai salah satu contoh yakni Bendungan Gintung atau lebih dikenal dengan Situ Gintung di Tangeran Selatan jebol pada tahun 2009. Kejadian tersebut menewaskan sedikitnya 99 orang.[2] Kejadian seperti jebolnya Bendungan Gintung sebenarnya bisa dihindari apabila ada penanganan lebih dini ketika bendungan sudah menunjukkan ciri-ciri akan mau jebol. Misalnya ketika bendungan sudah mulai bergerser beberapa milimeter dari posisi semulanya, maka pemerintah bisa mengambil tindakan dengan memperkuat lagi struktur bendungan atau mengurangi debit air, sehingga kejadian bendungan jebol bisa dihindari. Namun yang menjadi pertanyaan adalah kapan bendungan tersebut bergeser, seberapa besar pergeserannya dan kearah mana pergeserannya. Tentunya perlu penelitian khusus untuk mengetahuinya.
            Teknologi untuk melakukan pengamatan pergeseran bendungan atau yang lebih dikenal dengan istilah monitoring, sebenarnya sudah ada, namun belum banyak yang mengetahui. Monitoring merupakan bagian dari managemen resiko bencana, maksudnya melakukan perlakuan sebelum bencana itu terjadi, sehingga resiko terjadinya bencana bisa terhindari.
            Geomos atau Geodetic Monitoring Systems merupakan sistem monitoring yang dapat bekerja secara real time, biasanya digunakan di dunia pertambangan untuk mengetahui pergeseran kemiringan atau lereng pada tambang. Geomos ini juga dapat diterapkan untuk memantau pergeseran bendungan sehingga bendungan yang kelihatannya mau ambruk atau jebol bisa diketahui lebih dini dan dapat diantisipisi. Keunggulan dari Geomos ini yakni mampu melakukan monitoring secara real time selama 24 jam, terus menerus. Artinya kalau ingin mengetahui saat ini juga apakah sebuah bendungan bergeser atau tidak, dapat langsung diketahui. Arah dan kecepatan pergeseran juga dapat diketahui, maka ketika sebuah bendungan menunjukkan pergeseran misalnya setiap minggu bergeser 1 milimeter ke selatan, maka bisa diprediksi kapan bendungan tersebut akan jebol dan bisa dilakukan langkah antisipasi lebih awal.
            Geomos terdiri dari beberapa perangkat utama, seperti Total Station Robotic, GPS Monitoring, komuter, prisma target, dan internet. Berikut gambaran system kerja Geomos.


            Sistem kerja Geomos ini yakni prisma target dan GPS di tempatkan di dinding bendungan. Tiap prisma dan GPS memiliki posisi yang berbeda-beda. Logikanya jika dinding bendungan tidak bergeser maka prisma dan GPS akan tetap pada posisi awal, namun jika bendungan bergerser maka posisi GPS dan prisma juga akan berubah. Perubahan posisi GPS dan prisma target itulah kemudain yang dapat dipantau dan dianalisis. Dengan Total Station Robotic, seluruh pergerakan prisma target dapat dipantau secara otomatis. Pergerakan prisma dan GPS akan secara otomatis muncul dalam sistem Geomos dan dapat diakses melalui internet.  Jadi untuk memantau pergerakan suatu bendungan kini tidak harus selalu datang ke bendunganya langsung, bisa dari rumah asal ada koneksi internet dan perangkat Geomos sudah terpasang dengan baik di lokasi bendungan.
            Beberapa bendungan di Indonesia sudah menerapkan sistem Geomos ini, antara lain seperti Bendungan Jati Gede di Jawa Barat dan Waduk Sermo di Yogyakarta. Hasil monitoring yang akurat berdasarkan data monitoring lapangan yang dapat diakses kapan saja dan dimana  saja tentu akan memudahkan dalam pengambilan keputusan apabila terjadi pergeseran. Bisa dibayangkan jika seluruh bendungan di Indonesia sudah menerapkan teknologi Geomos ini, maka dapat dibuat sebuah database terpusat yang memantau seluruh pergerakan bendungan di Indonesia secara real time dan berbasis website. Jika sudah ada pemantauan terpusat, tentu saja akan lebih mudah melakukan pengambilan keputusan dengan cepat dan tepat. Misalnya saja dibuat pusat monitoring seluruh bendungan yang ada di Indonesia, dengan seluruh bendungan sudah dilengkapi teknologi Geomos, maka Presiden atau pengambil keputusan lainnya jika ingin memantau pergeseran bendungan cukup datang ke pusat monitoring untuk mengetahui bagaimana pergeseran bendungan. Penyebarlusan informasipun akan menjadi lebih  teratur karena sumber informasinya terpusat. Jika misalnya informasinya cuaca bisa di-update terus oleh BMKG dan disebarluaskan melalui berbagai media, maka dengan Geomos ini informasi pergeseran bendungan di seluruh Indonesia juga bisa diketahui dan disebarkan ke masyarakat luas, khususnya penjabat yang memiliki wewenang dalam pengamanan bendungan di berbagai daerah.
            Kedepannya jika pembangunan bedungan di Indonesia dilengkapi dengan sistem monitoring yang real time seperti Geomos ini, tidak perlu lagi ada kekhawatiran bendungan jebol atau ambruk. Semuanya dapat dipantau, bahkan dari jarak jauh sekalipun.

Oleh:
I Made Sapta Hadi
Mahasiswa Teknik Geodesi, Universitas Gadjah Mada.





[2] Informasi korban saat Situ Gintung jebol dapat diakses di https://id.wikipedia.org/wiki/Situ_Gintung

3 comments:

  1. belum lengkap mas, setidaknya plus alat monitor rembesan dasar dam sblm bergeser ...

    ReplyDelete
  2. Sy berminat memiliki buku tersebut, bagaimana caranya'? Atau ada dlm bentuk digital bisa share ke yuszar@gmail.com,
    Sy Yunisaf ZahrI geodesi ITB81, salam geospasial 👍👍👍

    ReplyDelete