Friday, July 18, 2014

Berbuka Puasa Dengan Si Mbah


17 Juli 2014
            Hari ini adalah hari yang sudah lama saya tunggu, karena hari ini saya akan pulang ke Bali setelah berjuang melewati semester 4 yang penuh akan tantangan. Seperti sebelum-sebelumnya saya pulang dengan naik Bis agar lebih murah dan  terjangkau. Kali ini saya naik Bis tidak bersama teman satu kampung karena semuanya sudah pulang lebih dahulu.
            Ada 1 hal yang selalu akan menarik untuk diceritakan saat pulang sendiri, yakni teman yang akan saya akan ajak duduk. Bisa anak muda, wanita,pria atau ibu-ibu dan om-om. Dan teman duduk saya kali ini adalah seorang nenek J.  Begitu duduk saya langsung mencoba mencari topik untuk sekedar basa basi dan biar ada teman ngbrol. Perjalanan Jogja ke Bali dengan Bis bukanlah perjalanan yang singkat, jadi akan terasa hampa jika hanya diam tanpa lawan bicara. Sejak kecil sebenarnya saya bukanlah tipe orang yang suka basa-basi atau suka mengbrol dengan orang yang baru saya kenal, tapi sejak kuliah ternyata menjadi orang yang ramah dan sedikit basa-basi itu entah mengapa terasa perlu dilakukan. Terlebih nanti didunia kerja, jika tidak ramah akan sulit beradaptasi, jadi saya memcoba membiasakannya dari sekarang.
            “Mau ke Bali Mbah?”, tanya saya.
 “Iya Mas, saya mau jenguk anak saya.”
Dari sedikit pembicaraan singkat itu akhirnya pembicaraannya menyambung sampai kemana-mana. Ternyata si Mbah punya anak yang membuka usaha jualan bunga di Denpasar. Bukan merupakan hal yang aneh lagi skarang banyak orang luar Bali yang membuka usaha di Bali, dan saya sendiri orang Bali mencari ilmu ke luar Bali. Selain itu si Mbah juga menceriktakan punya cucu yang skrng bekerja di kapal. Sesuatu yang menarik ditanyakan, karena saya juga suatu saat jika diijinkan ingin bekerjadi kapal offshore. Ternyata cucu si Mbah lulusan Teknik Perkapalan Undip, yang kini bekerja di Tanjung Priuk.
“Wah saya juga kalau lulus nanti ingin bekerja di kapal Mbah, kalo bisa, saya juga mahasiswa teknik”.
“Teknik Perkapalan Mas?”
“Bukan Mbah, saya Teknik Geodesi”. Dengan yakin saya jawab dan sudah siap akan memberikan kuliah 2 sks karena sepertinya si Mbah tidak tahu Teknik Geodesi. Biasanya setiap saya bilang jurusan Teknik Geodesi,kalau yang tidak tahu akan bertanya itu jurusan apa. Tapi jawaban si Mbah, “Oh Geodesi”.
Tanpa betanya apa-apa lagi, sepertinya faktor usia mempengaruhi rasa keingintahuan, atau memang si Mbah sudah tau Teknik Geodesi ya?? Entahlah J.
Waktu terus berjalan mata semakin mengantuk dan perut mulai lapar. Ada beberapa makanan ringan yang saya bawa untuk perbekalan.
“Lagi puasa Mbah?” tanya saya sebelum memutuskan untuk makan atau tidak.
“Iya Mas, saya puasa”.
Ternyata si Mbah puasa, rasanya ada yang aneh jika saya makan disebelahnya, apalagi makanan yang saya bawa aromanya enak dan terdengar gurih jika dimakan. Akhirnya saya putuskan tidak makan dulu sebelum si Mbah buka puasa. Hal hasil saya memustuskan tidur sampai jam buka puasa.
Sore sekitar pukul 6, akhirnya sudah bisa buka puasa. Si Mbah ternyata sudah lengkap dengan kopi hitam dan nasi bungkus yang ia bawa. Akhirnya saya juga ikut berbuka bersama si Mbah. Entah ini namanya toleransi antar umat agama atau tidak, yang jelas saya hanya hanya mengikuti perasaan hati saya yang memilih makan disaat si Mbah sudah berbuka puasa. Keanekaragaman agama menjadi sangat indah ketika semuanya saling menghargai. J