Sunday, July 27, 2014

Survei Hidro, Pantai Sadeng


Kali ini saya ingin berbagi pengalam saya beberapa waktu lalu ketika ikut membantu senior saya yang akan mencari data untuk skripsinya. Data yang dicari adalah batimetri atau kedalaman laut,pasang surut, dan data sudut serta jarak. Survei kali ini  berlokasi di pantai Sadeng, Gungkidul. Ikut survey hidro ini bukanlah yang pertama kali untuk saya, waktu semester 2 lalu  saya sempat ikut membantu survey ke Waduk Sermo, walau saat itu saya hanya menjadi helper, namun cerita itu saya tulis lengkap disini
Kali ini walau masih semester 4, dan belum mengambil matakuliah Survei Hidro, saya tidak lagi menjadi helper. Karena posisi kapal survei juga diikat dengan titik kontrol didarat pada saat mengukur batimetri, maka diperlukanlah Total Station untuk mendapatkan sudut dan jarak kapal dari darat. Disanalah tugas saya kali ini, mengukur sudut dan jarak kapal dari darat guna memperoleh koordinat kapal nantinya.
Sebelumnya perlu saya ceritakan, survey kali ini dipimpin oleh Mas Ari Sudrajat (Geodesi 2009) yang kali ini menjadi pemeran utama dalam survey kali ini, karena dialah yang sedang skripsi. Selain itu tentu saja ada juga kepala Lab Hidro, Bapak Abdul Basith, yang sangat baik dan sudah kedua kalinya mengajak saya ikut survey Hidro  disemter yang cukup dibilang masih junior ini. Pengalam survey seperti ini tentu sangat penting untuk menambah ilmu, beruntung saya bisa ikut, karena memang saya berusaha menjaga hubungan baik dengan dosen ataupun kakak senior, sehingga tawaran ikut membantupun datang. Tak terbayang jika kerjaan mahasiswa hanya kuliah dan pulang, saya yakin kesempatan survey seperti ini akan sulit didapat. Selain itu masih ada juga teman yang lainnya ikut antara lain Mas Yoga (Geodesi 2009), Mas Dicky (Geodesi 2010), Mas Yudho (Geodesi 2011), Mbak Meygan (Geodesi 2011), Mbak Dindi (Geodesi 2011), Mas Wildan (Geodesi 2011), Mira (Geodesi 2012),Fatku (Geomatika 2012), Fendi (Geodesi 2012) dan Mas Bowo Penjaga Lab Hidro.
Survei kali ini sepertinya sudah dipersiapkan dengan matang, beberapa hari sebelum berangkat semua yang ikut survey dibrifing dan dibagi menjadi beberapa tim. Ada 3 tim yakni tim Batimetri, tim Pasanag Surut dan Tim Kerangka Kontrol Horisontal (KKH). Berbeda dengan survey  saat di Waduk Sermo, waktu itu saya tidak diajak briefing, melainkan hanya mendadak diajak, sehingga kurang persiapan. Kali ini selain brifing juga ada pelatihan menggunakan alat dikampus. Saya tergabung didalam Tim KKH bersama Mas Yudho dalam survey ini. Inti dari penelitian kali ini yakni pertama adalah mengetahui kedalaman perairan Sadeng dengan mengukur menggunakan Echosounder dan fishfinder dengan kapal nelayan. Kemudian posisi kapal saat survey ditentukan dengan GPS dan diikatkan lagi dengan titik control didarat untuk membandingkan koordinat GPS dengan koordinat hasil hitungan melalui pengikatan didarat, dan data yang dicari terakhir adalah data pasang surut yang diukur dengan rambu ukur.
Berikut lokasi pengukuran yang saya print screen dari google maps



Dan berikut ini adalah rute kapal survey dan jarring KKH pada saat itu.

Garis merah menunjukkan jalur kapal survey sedangkan garis kuning merupakan KKH.
Lokasi Pantai Sadeng cukup jauh dari kampus, perlu waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke lokasi survey. Semua tim berangkat pukul 6 pagi menggunakan mobil,setibanya dilokasi, tidak ada waktu lagi untuk bermain-main apalagi foto selfie, brifing singkat dilokasi,selanjutnya langsung mengerjakan tugas sesuai tim masing-masing.
Karena saya tergabung dalam Tim KKH, tentu yang paling saya ketahui adalah Teknis pengukuran KKH, tapi tentunya saya juga harus menyempatkan “kepo” ke tim lain agar ilmu saya bertambah juga. Saya akan review sedikit mengenai tugas dimasing-masing tim.
Yang pertama ada Tim Batimetri. Sebenarnya saya sangat ingin masuk tim ini untuk memperdalam ilmu pengukuran batimetri, namun karena lebih dibutuhkan di KKH dan belum berpengalaman dengan alat echosounder alhasil saya tidak bisa terlibat banyak dipengukuran batimetri ini. Pengukuran batimetri menggunakan alat Echosounder dan Fishfinder. Ecosounder sendiri dilengkapi dengan tranduser yang diletakkan disamping kapal yang ujungnya dicelupkan di air. Transduser yang berfungsi mengirimkan sinyal akustik kedalam air menuju dasar laut sehingga nantinya bisa diperoleh kedalamannya. Tranduser memancarkan sinyal -sinyal akustik ke bawah permukaan laut. Sebenarnya prinsipnya hampir sama seperti pengukuran jarak menggunakan total station. Rumusnya : Jarak = ( Kecepatan gelombang x Waktu ) / 2. Alasan dibagi 2 yakni karena jarak yang ditempuh kan bolak balik, jadi dibagi 2 supaya jarak one way saja yang didapatkan . Alat satu lagi adalah fishfinder, sesuai namanya alat ini sebenarnya diapaki untuk mencari ikan, namun karena juga mampu menunjukkan kedalaman, alat ini juga sering dipakai survey. Alasan utamanya tentu saja karena harganya jauh lebih murah dari pada echosounder.
Berikut ini alat ecosounder :

Dan ini adalah kapal survey yang digunakan, bukan kapal besar,melainkan kapal nelayan yang sayangnya tidak ada penutup bagian atasnya, Bisa dibayangkan bagaiamana dikapal tanpa penutup atas disiang hari, panasnya cukup mampu membakar kulit.



Tim berikutnya ada tim pasang surut, tim ini bertugas untuk mengamati ketinggian air menggunakan rambu ukur. Prinsipnya cukup sederhana, tinggal mencelupka rambu ukur hingga kedasar laut, kemudian setiap 15 menit dicatat tinggi permukaan lautnya.
Berikut ini foto ketika mencelupkan rambu ukur ke laut.

Dan tim berikutnya tentu saja tim KKH. Selain bersama Mas Yudho, tim KKH juga dibantu oleh Fendi dan Fatkhu. Tugas kami pada saat tiba disana yakni mengukur polygon utamanya. Poligonnya adalah polygon terbuka terikat sepihak. Jadi hanya ada 1 titik kontrol yang diketahui koordintanya. Tunggu dulu, jika pembaca bukan mahasiswa geodesi mungkin bingung dengan istilah polygon. Saya coba jelaskan secara sederhana. Coba dibayangkan jika sekarang kamu sedang naik kapal dilaut, dari laut kamu melihat 5 patung yang posisinya tetap dan tidak bisa digeser,kemudian tiap patung itu memiliki angka sebagai kode posisi patung tersebut, angka tersebutlah yang disebut koordinat. Untuk mengetahui posisi kapal dengan acuan patung tersebut, maka perlu diukur jarak patung kekapal dan sudutnya. Nah pengukur sudut dan jarak itu bisa digunakan alat Total Station. Posisi patung-patung itu didalam pengukuran sebenarnya berupa titik, yang dimana Total Station akan didirikan di titik tersebut. Nah jika ke 5 titik tersebut dihubungkan dengan garis, maka garis tersebut disebut polygon. Karena hanya ada 1 patung yang memiliki angka, atau ada 1 titik yang memiliki koordinat, maka koordinat dititik yang lain perlu dihitung dengan terlebuh dahulu mengukur sudut dan jarak dari 1 titik yang sudah diketahui koordinatnya. Atau jika dengan Total Station koordinat titik yang lain bisa langsung otomatis didapat.
Tugas saya waktu itu adalah mencari koordinat titik polygon, setelah semua didapat baru kemudian membidik kearah kapal untuk nantinya mendapatkan nilai sudut dan jarak kapal agar mendapat koordinat posisi kapal. Mengukur polygon bukan hal yang jarang saya lakukan, sudah beberapa kali dilakukan saat praktek di kampus. Yang tidak biasa adalah tempatnya, saya sempat sentering dan mendirikan alat benar-benar dipinggir laut, dengan angin yang kencang, agak ngeri juga ketika melihat kebawah laut saat sentering, apa jadinya kalau alat yang mahal yang saya pegang jatuh kesana.

 Selain itu yang tidak biasa lagi adalah suhunya, mengukur dipantai sekitar jam 11-12 itu panasnya bukan main, saat itu  saya sempat berpikir, kalau bekerja ditambang batubara, bagaimana ya panasnya. Ada sedikit hal yang menggagu saat mengukur, yakni meteran hanya ada 1, sehingga untuk mengukur tinggi alat, meteran tersebuta harus dioper-oper antar titik kontrol.  Dengan jarak antar titik kontrol yang cukup jauh, akhirnya tim KKH harus lari-larian memindahkan meteran.
Begitu koordinat polygon sudah didapat, langsung kami coba ploting di AutoCAD, hasilnya sudah sesuai dengan kondisi dilapangan. Setelah itu selanjutnya langsung menyiapkan alat lagi untuk mengukur sudut dan jarak kapal dari titik kontrol yang tadi.
Disinilah tantangan tersebarnya, membidik kapal yang sedang bergerak ditengah laut. Membidik harus cepat dan tepat. Untuk mengukur sudut dan jarak kapal  digunakan 2 total station, jadi 2 total station di titik kotrol yang beda harus membidik kapal berbarengan pada waktu dan posisi yang sama. Triknya adalah menggunakan HT. Mas Yudho mengkomandoi waktu mulai membidik kapal, dihitungan ketiga  saya akan mengunci klem Total Station, dan mencatat sudutnya, data jarak tidak bisa didapat karena sangat sulit membidik prisma ditengah laut dengan kapal yang bergerak-gerak. Akhirnya sudut dicatat secara manual dan jarak akan dihitung manual dari data sudut yang ada. Metode untuk mencari posisi kapal disini adalah metode pemotongan kemuka. Pemotongan kemukan adalah metode pengukuran untuk meperoleh koordinat suatu titik dengan cara mengukur sudut dan jarak dengan ketentuan alat didirikan di titik yang sudah diketahui koordinatnya. Agar lebih jelas coba perhatikan gambar ini :


Diumpamakan titik merah adalah posisi kapal, dan titik warna kuning adalah titik polygon yang sudah diketahui koordinatnya. Dengan total station maka sudut β dan µ dapat dicari kemudian jarak b dan c bisa dihitung dengan rumus sinus sebagai berikut:


Sedangkan jarak anatr titik polygon bisa dihitung. Misalkan titik kuning itu adalah A dan B maka jarak AB = 
Untuk mencari koordinat kapal dapat menggunakan acuan titik A atau B, jika dari titik A koordinat kapal :
Xkapal = XA + da-kapal (jarak titik A ke kapal) sin Azimut Ake-kapal
Ykapal =  YA + da-kapal (jarak titik A ke kapal) cos Azimut Ake-kapal

Setelah membidik kapal berjam-jam, akhirnya sore sekitar jam 5 semua pengukuran selesai dilakuka. Baru terasa kulit terbakar waktu sudah selaesai mengukur. Pengalaman seperti ini menjadi sangat seru karena tak sering bisa saya peroleh. Suatu saat mungkin akan tertulis lagi suatu pengalaman survey hidro, dengan kapal yang lebih besar dan lautan yang lebih luas tentunya J