Thursday, July 3, 2014

Geodesi Bicara Politik [?]


            Hari ini tidak seperti biasanya saya menghadiri acara seminar diluar Fakultas Teknik. Kalau biasanya saya dan teman-teman membuat acara seminar, kali ini saya menjadi pesertanya. Bukan semiar tentang Terestrial Laser Scanner, apalagi seminar kegeodesian. Seminar yang saya ikuti adalah Seminar Politik Negara Maritim yang diselenggarakan oleh mahasiswa jurusan ilmu sosial dan politik. Ada 6 pembicara utama dalam seminar ini, tapi tentu saja motivasi saya hadir diacara ini yakni karena 1 pembicaranya adalah ‘guru’ saya yang aktif bicara batas maritim yakni Bapak Made Andi Arsana. Mengangkat tema batas maritim menjadi topik yang menarik dibahas saat ini karena sebelumnya sempat dibahas di debat capres, disamping topik “bocor-bocor” yang juga sempat heboh beberapa waktu lalu.
            Tapi tunggu dulu, sejak kapan dosen Teknik Geodesi yang dulunya prakter mengukur selokan kali code berbicara politik? Jawaban Pak Andi dengan singkat yakni “Sejak tukang kayu memutuskan mencalonkan diri menjadi Presiden” J
            Bagi yang belum tahu tentang Geodesi, apalagi masih bingung Geodesi itu fakultas apa, perlu diketahui selain mengukur ditambang, perminyakan, di pertanahan, salah satu keahlian Geodesi yang lainnya adalah mengukur batas wilayah. Bayangkan betapa luasnya lautan yang permuakaannya dimana-mana hampir sama semua, lalu bagaimana menentukan batasnya?? Saya sebagai mahasiswa Geodesi akan menjawabnya degan peta dan koordinat. Kalau saat mahasiswa prakteknya mengukur selokan, maka kalau sudah bekerja geodesi akan mengukur ‘selokan’ yang membatasi Negara 1 dengan Negara lainnya, ya tidak jauh beda dengan praktek sepertinya J
            Kembali ke acara seminar, saya datang tanpa tiket masuk karena sebelumnya tidak melakukan registrasi.
            “Waiting list ya mas J” senyum manis mahasiswi fisipol yang menyuruh saya untuk menunggu sampai ada kursi kosong dulu baru boleh masuk. Coba tadi saya berangkat bersama dengan pembicaranya, tentu tidak ada kata waiting list. J Konsep ‘waiting list’ ini sepertinya cocok juga diterapkan diacara seminar di Geodesi nanti J Tunggu saja nanti mahasiswi fisipol ikut seminar di Geodesi J
            Setelah menunggu sekitar 5 menit, akhirnya saya berhasil berada dialaman ruang seminar. Salah satu pembicara yang juga bagus saat itu yakni bapak Faizal Basri yang menurut saya nasionalisme cukup tinggi. Beliau sempat membandingkan harga jeruk asli Indonesia dengan jeruk impor dibeberapa swalayan. Hasilnya cukup mengejutkan, harga jeruk asli lokal lebih mahal dari pada jeruk impor,yang kualitasnya hampir sama, atau bisa yang impor lebih bagus. Jika banyak iklan yang sering mengatakan cintailah produk lokal, jika meliat harga jeruk ini apakah salah jika mengatakan nasionalisme itu mahal?? Tugas saya dan pemuda lainnya untuk memperbaiki semua ini.
            Seminarnya kali ini tentu tidak hanya soal jeruk, isu batas maritime dijelaskan dengan menarik oleh Bapak Andi setelah Pak Faizal Basri berbicara. Seperti biasanya andalannya adalah slide presentasinya. Karena sudah mengikuti seminar Pak Andi kemana-mana, saya cukup hafal dengan tipe-tipe slidenya kali ini. Salah satunya mungkin teman pembaca juga pernah lihat bagian slide ini.
 
Slide Pak Andi
           Saya tidak akan menulis banyak secara teoritis tentang batsas maritime disini, karena saya juga belum mengambil matakuliah tersebut.
Beberapa isu menarik yang dibahas lainnya adalah isu tentang Sipadan dan Ligitan serta kasus laut China Selatan. Isu yang beredar dulu adalah Indonesia kehilangan 2 pulau yakni Sipadan dan Ligitan, yang terjadi sebenarnya bukanlah kehilangan melaikan Indonesia gagal menambha 2 pulau baru. Pak Andi menjelaskan wilayah Indonesia dan Malaysia menurut teori yang saya lupa nama teorinya, wilayah Indonesia dan Malaysia mengikuti luas wilayah penjajahnya yakni Belanda dan Inggris. Lalu siapa yang menjajah Sipadan dan Ligitan dahulu? Baik Belanda dan Inggris tidak memiliki data yang menjelaskan pernah menjajah 2 pulau tersebut. Akhirnya terjadilah pengklaiman berdasarkan sejarah kerajaan di masa lalu. Indonesia dan Malaysia sama-sama mengajukan pengklaiman ke PBB dengan data sejarah, namun keduanya ditolak PBB. Akhirnya PBB memberikan putusan Negara mana yang dalam sejarahnya ataupun dalam masa penjajahan dapat memberikan bukti pernah merawat atau melakukan pembangunan di daerah Sipadan dan Ligitan berhak atas pulau tersebut. Dan yang terjadi adalah Inggris pernah membangun mercusuar didaerah sipadan dal ligitan dengan bukti yang cukup jelas. Pada akhirnya Indonesia gagal menambah 2 pulau tersebut.
Berbeda lagi dengan kasus laut China selatan yang dimana biasanya pulau diapit oleh lautan, kalau Laut China Selatan adalah lautan yang diapit oleh beberapa pulau, dan ribetnya adalah beberapa pulau tersebut berbeda Negara. Jika membahas kasus ini akan jadi lebih dari 1 paper sepertinya, jadi selengkapnya silahkan tanya pada Bapak Andi Arsana.
Setelah dipikir kembali, hal-hal teknis dalam kemaritiman ini memang perlu seorang ahli dalam memberikan keputusan ataupun penjelasan mengenai kasus yang terjadi. Apalagi jika dibawa ke dunia politik, jika ada pemimpin Negara yang mengatakan,
 “Kita tidak boleh kehilangan pulau lagi!”, maksudnya kehilangan yang mana??
“Kita harus terlibat dalam pengklaiman lau China selatan!” Apakah semudah itu berbicara melakukan pengklaiman??
Apalagi bicara soal batas maritim Indonesia dan Malaysia, dimana letak batas maritime yang sebenarnya? Tidak bisa asal bilang ganyang Malaysia ketika Malaysia melewat batas jika kamu sendiri tidak tahu dimana batasnya. Disinilah peran Teknik Geodesi dalam menjelaskan batas yang jelas J. Semua bidang ilmu punya peran masing-masing, pesan untuk yang berpolitik disana, tiap keputusan dan kebijakan tentu akan lebih baik jika diambil dengan pertimbangan dari ahli dibidang ilmunya, jangan hanya bilang tegas tanpa dasar ilmu yang jelas J

Best Regards
Made Sapta

Teknik Geodesi UGM 2012