Friday, October 24, 2014

Ancaman Bom di Perairan Indonesia


Februari, 2016.
            Pagi ini saya mendapat sebuah email. Mendapat email memang sudah biasa, tapi email yang satu ini tidak biasa. Subyek dari email ini berisikan tulisan “tolong”, dan yang lebih tidak biasa lagi adalah pengirimimnya yakni bertuliskan I Made Andi Arsana. Beliau adalah dosen teknik geodesi yang saat ini menepuh pendidikan S3 di Australi. Tidak biasanya saya mendapat email darinya, apalagi dengan subyek “tolong”. Langsung saja saya buka emailnya dan saya dapati isinya seperti ini
            Om Swastyastu Made Sapta,
            Sekarang posisinya Made dimana? Saya ada tugas penting untuk kamu De, dan untuk tugas kali ini saya ingin bertemu langsung dengan Made. Tolong segera hubungi saya jika made bisa.
            Andi
            Selesai membaca isi pesannya, saya langsung melihat waktu penerimaan email ini, untungnya email ini ternyata baru dikirimkan 2 menit yang lalu. Saya sedkit berdebar – debar mendapat email seperti ini, entah tugas apa yang akan saya terima. Tawaran seperti ini jarang diterima, dan pasti tidak akan saya tolak, karena hal semacam ini dapat membina hubungan yang baik dengan dosen, dan hal itu penting bagi saya sebagai mahasiswa. Langsung saja saya balas email tersebut.
            Om Swastyastu Pak Made
                        Saya di Tabanan Pak. Saya bisa Pak, tapi tugasnya apa ya Pak?
Itu balasan singkat saja dari saya. Tak kurang dari 3 menit saya langsung menerima balasan email dari Pak Made.
Nanti saya jelaskan ketika kita bertemu. Sekarang kamu cari saja lokasi saya, ini koordinatnya 64 9636649 E 8686949 N, lokasinya masih di Tabanan dan tolong jangan ceritakan pada siapa –siapa tentang email ini dulu sebelum kita bertemu. Saya percayakan padamu De.
Andi
            Mendapat balasan seperti ini saya mejadi semakin penasaran dan sekaligus berdebar – debar. Saya berusaha berpikir tenang. Ini adalah tugas dari Pak Made Andi, kesempatan ini tidak akan saya lewatkan. Langsung saja saya buka aplikasi GPS di handphone saya dan memasukkan koordinat yang diberikan. Mencari lokasi dengan koordinat tentunya hal yang biasa dilakukan oleh mahasiswa geodesi.
            Sepengetahuan saya seharusnya Pak Made Andi berada di Australi, tetapi beberapa hari yang lalu saya sempat membaca statusnya yang mengatakan akan ke Bali. Tapi ada apa sebenarnya sehingga harus ke Bali? Dan tugas apa yang hendak diberikan pada saya? Pertanyaan itu terus menghantui saya dalam perjalanan. Lokasi yang diberikan Pak Made tidak jauh dari rumah saya, jaraknya di GPS menunjukkan 5,6 km. setelah melewati beberapa kilometre saya menyadari kalau lokasinya mengarah ke Desa Tegal Jadi. Mungkin saja kerumah Pak Made Andi yang ada di Tegal Jadi. Saya tidak tahu dimana tepatnya rumah Pak Made Andi, tapi dengan koordinat dan GPS pastilah lokasinya dapat saya temukan.
            Setelah melaju bebrapa menit dengan motor, akhirnya saya berhenti disebuah rumah di Desa Tegal Jadi. GPS saya menunjukkan lokasi yang dimaksudkan Pak Made Andi ada di dalam rumah yang dihias style Bali ini. Tanpa ragu saya langsung mengetok pintu dan memberi salam Om Swastyastu. Beberapa detik kemudian terdengar sebuah langkah kaki dari dalam, dan kemudian membukaan pintu. Kali ini insting Geospasial saya ternyata membawa saya ketempat yang benar, terlihat Pak Made mebukaan pintu dan mengajak saya masuk.
Ayo De, silahkan masuk, kita tidak punya banyak waktu.
            Mendengar kata – kata itu saya semakin tidak menegrti ada apa sebenarnya, langsung saja saya ikut masuk  ke dalam rumah. Saya diajak ke sebuah ruangan yang cukup luas, disana sudah ada 2 orang pria yang bertubuh besar dengan ramput pendek seperti cukuran polisi atau tentara.
Kenalkan De, Bapak Bapak ini adalah Pak Eka, dan Pak Panca, beliau berdua adalah anggota TNI-AL.
Maaf Pak Made, sebenarnya tugas saya apa ya Pak? Tanya saya yang dari tadi sudah bingung apa arti semua ini.
Begini De, 5 hari yang lalu anggota TNI-AL menemukan 3 buah bom yang masih aktif diwilayah perainan NTT dan 2 bom diperaiaran selatan Bali.Kemungkinan masih ada banyak Bom lain yang tersebar diseluruh perairan Indonesia. Selain itu 2 Hari yang lalu TNI-AL mendapat surat ancaman dari orang yang tidak dikenal yang menyatakan akan meledakka semua perairan Indonesia 3 hari lagi dari sekarang. TNI-AL memerlukan bantuan sarjana Geodesi untuk memebantu menemukan semua Bom itu De, kamu harus ikut membantu Bapak.
Saya cukup tekejut mendengar penjelasan Pak Made Andi. Ini adalah keadaan yang sulit.
Tapi Pak, apa yang bisa saya lakukan? Belum banyak ilmu yang saya kuasai, saya baru semsester II Pak.
Bapak pernah membaca tulisan kamu tentang penelitian yang kamu lakukan untuk PKM itu De,tentang identifikasi arus laut. Kejadian kali ini tidak jauh dari hal itu De.
Mungkin inilah yang dimaksud The Power of Writing oleh Pak Made Andi dalam sebuah tulisannya yang pernah saya baca. Berkat menuliskan pengalaman saya dulu, saya menjadi terlibat dalam kejadian yang penting ini.
Kemudian Pak Panca memeberi penjelasan kepada saya ,
Begini Made, hasil identifikasi yang dilakukan TNI terhadap 5 bom yang telah ditemukan, menunjukkan bahwa lokasi Bomnya selalu berada pada kedalaman 5 – 8 meter. Dan pada saat air surut bom itu masih tenggelam namun saat pasang kedalamannya tidak lewat dari 8 meter. Selain itu Bom juga ditemukan pada lokasi yang arus lautnya tidak terlalu kencang.
Mendengar penjelasan Pak Panca itu pikiran saya mulai terbuka. Ya benar ini mirip penelitian yang saya lakukan dulu untuk PKM. Saya dulu memncari lokasi untuk menenpatkan turbin sebagai pembangkit listrik tenaga arus laut dengan variable berupa kuat arus yang pas dengan tenaga turbin,kedalaman yang tidak terlalu dalam dan tidak tenggelam saat surut. Kemudian dari 3 variabel tersebut saya membuat peta lokasi yang cocok untuk memasang turbin. Jika dihubungkan dengan pengeboman ini, cukup mirip, kalo dulu saya mencari lokasi yang cocok untuk turbin sekarang saya mencari lokasi kemungkinan peneror bisa meletakkan bom.
Ya Pak Made saya mengerti sekarang, ada 3 variabel yang harus kita urus terlebih dahulu yakni kedalaman, arus, dan pasang surut. Kita bisa mememtakan lokasi yang mungkin ada Bomnya. Data kedalaman bisa kita peroleh dari hasil survey Batimetri yang sudah pernah dilakukan, saya mempunyai data batimetri seluruh perairan Indonesia yang saya peroleh dari Dishidros saat penelitian terdahulu. Sedamgkan data pasut bisa kita download di http://ioc-sealevelmonitoring.org/, data arus bisa kita peroleh dari peyedia data satelit altimetry.
Tepat sekali De, itulah alasan kenapa Bapak mengajak kamu De. Tapi kita cuma punya waktu 1 hari untuk memetakan seluruh lokasi kemungkinan Bomnya berada, karena setelah itu seluruh anggota TNI akan menyisir perairan yang kita petakan. Sore ini kita akan berangkat ke Jogja dengan pesawat TNI-AU, akan lebih mudah memetakan lokasi di Lab. Teknik Geodesi UGM, kamu siap De?
Siap Pak! Sebenarmya saya masih tidak menyangka semua ini, semuanya terasa singkat dan terjadi begitu saja.Ini tidak sama dengan PKM lagi yang mengejar posisi juara, atau membantu senior yang penelitian untuk skripsi.
Siang itu juga saya kembali pulang sebentar dan mempersiapkan barang bawaan saya. Pak Made menjelaskan semuanya kepada orang tua saya sehingga saya diberi ijin pergi ke Jogja. Semua data – data penelitian yang dulu, saya kumpulkan, mulai dari peta batimetri seluruh perairan Indonesia yang bisa dibuka dengan Global Mapper sampai dengan data arus perairan Indonesia. Kesemua data itu nantinya pasti akan di overlay dan dijadikan peta. Sebelum berangkat Pak Made mengajak saya ntuk sembahyang dulu sebelum berangkat. Saya tidak bisa focus saat itu, pikiran masih terbayang bagaimana kalua Bom itu tidak bisa diantisipasi, apa jadinya lautan Indnesia nantinya. Selintas terngiang kembali kata Pak Subaryono sewaktu kuliah dulu.
Tiga focus utama bidang geodesi-geomatika :
1.      Penentuan posisi dalam ruang (positioning).
2.      Pemerolehan data yang terkait posisi
3.      Manajemen data/informasi termasuk distribusi dan penyebarluasannya.
Sekarang saya menegerti semua itu. Pertama tujuan saya adalah menentukan lokasi tempat yang dimungkinkan terdapat Bom. Kedua saya harus memperoleh data arus, batimetri dan pasang surut yang menjadi indicator dalam penentuan posisi Bom. Ketiga saya  mengolah data tersebut menjadi peta kemudian mendistribusikannya kepada anggota TNI untuk mencari Bomnya. Mungkin ini yang dimaksud pengalaman adalah guru terbaik, materi dikelas tentu tak semenarik dan setegang pengalaman saya saat ini.
Setelah semuanya beres, sore itu juga kami berangkat. Saya diajak kepangkalan TNI-AU dan naik pesawat TNI. Dalam satu pesawat terdapat 8 orang anggota TNI ditambah saya dan Pak Made Andi, serta 2 orang pilot. Suasananya cukup tegang saat itu, tidak banyak pembicaraan. Dibagian tempat duduk paling belakang terdapat kotak hitam yang sangat besar dan terlihat 2 orang anggota TNI duduk dekat dengan kotak itu dengan persenjataan yang lengkap.Saya memberanikan diri menanyakan isi kotak tersebut ke Pak Panca yang duduk disebelah saya. Sepertinya dia punya jabatan yang tinggi dalam TNI ini, banyak embel2 di bajunya yang tidak ada di anggota lainnya.
Pak Panca, isi kotak itu apa ya pak?
Isi kotak tersebut adalah Bom yang waktu ini ditemukan De, sengaja tidak dimusnahkan karena akan diteliti diJogja. Bomnya tergolong baru ditemukan di Indonesia.
Apa Bomnya sudah dijinakkan Pak? Tanya saya dengan nada cukup cemas.
Tenang saja De, Bom itu tidak akan meledak sebelum 3 hari kedepan.
Mendengar kata – kata itu saya menjadi cukup tegang. Itu berarti Bomnya belum dijinakkan. Pak Made Andi rupanya mendengar percakapan saja.
Semuanya akan baik – baik saja De. Pak Made tersenyum pada saya, tapi sepertinya senyumnya ini tidak biasa. Ada rona kecemasan di matanya. Terlihat keringat yang keluar di pipi kanannya, dari raut wajahnya sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Sementara itu saya terus melihat kotak hitam itu. Ada firasat buruk dalam hati saya, saya berusaha menghilangkannya, tapi perasaan tidak enak ini terus datang, entah apa artinya.
Tiba – tiba terdengar suara dari kotak hitam tersebut.
Tit tit tit tit tit. Terdengar suara seperti alaram. Semua mata langsung tertuju pada kotak hitam itu. 2 orang penjaga kotak itu kemudian melihat Pak Panca, kemudian Pak Panca mengangguk seperti seolah memeberi isyarat. Kemudian ke 2 petugas tadi membuka kotak tersebut. Suasanya menjadi semakin menegangkan.
Pak Panca tolong segera kesini!! Salah seorang petugas tadi memanggil Pak Panca dengan nada yang cukup panik. Pak panca langsung membuka sabuk pengamannya dan menuju kotak itu sembari menyuruh semuanya tetap tenang. Tentu saja saya tidak bisa tenang. Keringan dingin mulai keluar dari tubuh saya. Ternyata bukan cuma saya, saya melihat keseliling, ternyata semua angoota lainnya   nampak gelisah.
Kita harus segera membuang Bom ini Pak !, kata salah seorang petugas tadi.
Tidak bisa! Jika membuang Bom ini kita tidak akan bisa menjinakkan Bom2 yang lainnya.
Sementara itu suara Bom itu semakin cepat seolah olah mau meledak.
Tapi Pak ini demi keselamatan kita, kita tidak tahu kapan Bom ini akan meledak!! Kita harus mebuangnya!
Pak Panca nampak kebingungan, jiwa kepemimpinannya seolah tidak tegas dalam menangani situasi genting ini. Sementara  bom itu terus berbunyi makin cepat, Pak Made Andi bangun dari tempat duduknya dan menuju Bom itu.
Bom ini harus dibuang, jika kita mati disini semuanya akan sia – sia! saya semakin cemas dengan hal ini. Terlintas bayangan almarhum kakak saya, apakah saya akan bertemu dengannya sekarang. Pak Made Andi terlihat ingin membantu anggota TNI yang juga berniat membuang Bom itu, namun ia langsung dihalangi dan dipegang oleh Pak Panca. Saya tidak bisa diam, saya langsung bangun dan berlari kearah Pak Made, begitu berlari, terdapat guncangan di pesawat kemungkinan akibat cuaca yang buruk saat itu. Saya kehilangan keseimbangan, saya terjatuh dan kepala saya membentur kotak hitam ini.Terlihat beberapa detik sebuah cahaya merah yang berkedip kedip dan penuh dengan kabel, terlihat angka yang menunjukkan angka 7 kemudian berganti menjadi 6. Kepala saya masih pusing akibat benturan itu.  Saya hampir tak sadarkan diri baying - bayang gelap mulai meyelimuti pandangan saya. Kemudian terdengar teriakan yang tidak asing lagi,,
            Cepat bangun De! Seberkas cahaya kemudian menusuk mata saya.  Ternyata suara itu adalah suara Ibu saya, iya membuka korden jendela kamar saya sehingga cahaya pagi masuk ke kamar saya. Saya terbangun dari mimpi.

                                                                                                Made Sapta
Teknik Geodesi UGM 2012
PS:
1.      Kisah dalam cerita ini hanya fiktif belaka.
2.      Pemeran utama dalam cerita ini yakni Made Sapta(Mahasiswa) dan Bapak I Made Andi Arsana (Dosen), menggunakan nama sebenarnya atas persetujuan yang bersangkutan.
3.      Penulis terinspirasi dari kegiatan PKM-Penelitian penulis bersama Bondan, Baihaqi, Chae, dan Fajar, serta keseharian penulis.