Monday, December 1, 2014

Pura Vaikuntha Vyomantara – Pertemuan Singkat 2 Tahun Lalu.



21 November 2014



Sore ini  tak biasanya saya menghabiskan senja di Paskhas,TNI AU. Bukan untuk latihan militer atau mendaftar TNI, namun untuk melaksanakan kegiatan GEOID yang merupakan kegiatan ospek jurusan. Ini adalah kali pertama dilakukan GEOID di Paskhas. Ada banyak pelajaran baru yang didapat di Pashkash kali ini.Namun tidak itu yang akan saya bahas kali ini. Hari ini tanggal 21 November 2014, bertepatan dengan hari raya tilem (bulan mati). Bagi umat Hindu seperti saya dihari raya Tilem seperti ini dianjurkan untuk melaksanakan persembahyangan di Pura. Kebetulan sekali ada Pura yang berlokasi tepat ditengah-tengah Markas TNI AU, yakni Pura Vaikuntha Vyomantara. Saya belum pernah sembahyang dipura ini sebelumnya. Entah kenapa, jika berada di Luar Bali, ketika datang ke Pura perasaan nyaman, teduh dan tenang akan datang sendiri.
Saya datang ke Pura bersama 2 orang teman saya yakni Adi dan Ditha, rekan sedharma di Geodesi. Tanpa pakaian adat, tanpa udeng kami bertiga datang ke pura. Maklum saja selama GEOID kami tidak menyiapkan pakaian adat, karena acara kepura ini juga tidak direncanakan sebelumnya. Jika di Bali ke Pura tanpa berpakaian Adat, mungkin akan terlihat sangat aneh dan mencolok. Namun jika di Jawa ada perasaan yang berbeda, tidak ada orang yang mmpermasalahkan bahkan sepertinya semua memaklumi.
Di Pura Vaikuntha Vyomantara, sepertinya memang dibuat untuk anggota TNI yang beragama Hindu, hal ini bisa dilihat dari sebagian besar potongan rambut umat yang bersembahyang disana, sebagian besar ala TNI. Namun Pura ini juga dibuka untuk umum, cukup ijin mengatakan akan sembahyang, free acces pun didapat.
Selama bersembahyang saya duduk paling belakang bersama Ditha dan Adi, disebelah saya ada Bapak-Bapak yang sudah duduk terlebih dahulu bersama 3 orang anaknya, didepan saya ada wanita ‘ayu’ yang dari tadi asik mengbrol dengan temannya. Begitu kami bertiga duduk, Ibu-Ibu didepan saya dengan sigap bertanya “ Dari mana?” sambil tersenyum penuh keramahan. Mungkin beliau penasaran dengan kostum kami yang bertuliskan GEOID dan jarang terlihat di Pura ini. Saya jawab dengan senyum ramah, Teknik Geodesi UGM Bu J. Si Ibu hanya mengaguk dan tersenyum, tak ada kelanjutan obrolan karena jaraknya memang agak jauh didepan dan sulit mengbrol. Namun yang menarik adalah Bapak yang duduk disebelah kanan saya. Sekilas saya perhatikan saya pernah melihat Bapak ini, tapi saya masih belum yakin. Disinilah ilmu ‘basa-basi’ itu diperlukan, namun sebelumnya saya memulai ternyata Bapak disebelah kanan saya sudah menyapa terlebih dahulu. Pertanyaanya sama, sedikit berbau geospasial. “Dari Mana?” Tentu tidak akan saya jawab dari koordinat 430835.73m E , 9141738.49 S. Saya jawab dari Teknim Geodesi. Dari sana kemudian terjadilah berbagai macam obrolan. Saya tahu beliau adalah seorang guru Agama di sebuah SMA di Jogja, yang sekarang tinggal disekitar daerah Gedong Kuning. 1 pertanyaan singkat dari yang akan menjawa rasa penasaran saya. “Apa bapak pernah memberi materi atau kuliah agama Hindu di Fakultas Teknik UGM?” Iya pernah 2 tahun lalu, saya lupa nama jurusannya, dulu ada keponakan saya yang mengundang kesana, namanya Putu Praja”. Ternyata benar 2 tahun lalu dalam kegiatan ospek jurusan yang dimana saya adalah pesertanya, ada kegiatan siraman rohani, waktu itu yang beragama Hindu, mendapat wejangan dari seorang Guru Agama, yang saya lupa namanya. 2 tahun lalu waktu siraman rohaninya dilaksanakan malam hari dan cukup singkat, sekitar 1 jam. Itupun dilaksanakan dalam kondisi yang cukup melelahkan karena sebelumnya siraman rohani ada kegiatan lain. 2 tahun lalu sepertinya cepat berlalu, Guru yang dulu mengajarkan Agama, bahkan hampir saya lupakan, saya memohon maaf untuk yang satu ini. 2 tahun lalu saya,Adi dan Ditha diajari selama kurang lebih 1 jam  oleh Bapak yang saat ini duduk sembahyang bersama saya. Dulu Beliau  mengajari mengenai bagaimana mengamalkan nilai-nilai keagaman selama kuliah. Kini setelah 2 tahun berlalu, akhirnya bertemu kembali dengan Sang Guru. Akhirnya kami semua mengbrol banyak membahas mnegenai kegiatan dulu, yang sekarang dan bermacam-macam hal.
Tak terasa waktu 2 tahun begitu cepat berlalu. Jika tidak dimanfaatkan dengan baik akan ada banyak hal yang terlewatkan. Suasana hening, damai dan tenang tiba-tiba datang menghentikan semua obrolan malam itu, sudah waktunya sembahyang.