Wednesday, July 20, 2016

Pulang


            Ibu, maafkan aku yang tidak pulang selama liburan ini. Bukannya aku tak rindu dan berbakti padamu. Tiap doaku selalu ku panjatkan untuk kesehatanmu. Tiap lelahnya pekerjaan ku ingat senyummu untuk menjadikan pemacu semangat hidupku. Tapi maafkan aku, kali ini aku tidak bisa pulang. Aku masih berjuang untuk menjamin hari tua mu nanti. Hari dimana engkau dapat melakukan hobi apa sja yang membuatmu bahagia. Tanpa harus memikirkan berapa harga beras dan minyak goreng di warung tetangga. Sebentar lagi aku akan  pulang dengan segala cerita dari berbagai belahan dunia yang telah aku jelajahi, Kan ku ceritakan segala pencapaianku yang ku peroleh berkat doa serta semangatmu yang selalu kau berikan padaku. Ibu, maafkan aku, terkadang aku mengeluh atas segala upaya ku, mengeluh atas semua keadaan ini. Ingin rasanya aku pulang dan berbaring manja dipangkuanmu. Tapi Ibu, maafkan aku yang tak pulang. Aku masih harus berjuang. Belum banyak yang bisa kuberikan padamu saat ini. Maafkan aku yang tidak bisa memijat kakimu ketika engkau lelah sehabis bekerja.  Maafkan aku yang tidak bisa mengantarmu ke pasar tiap pagi. Aku sedih, menangis dalam hati karena tidak bisa bersamamu. Ibu, sehebat apapun aku mejalin kekerabatan di berbagai belahan dunia, tak ada kerabat yang bisa menggantikanmu. Berkelakar dan menjelaskan hal-hal yang berhasil ku raih adalah obat paling mujarab dari segala kedundahan hati. Engkaulah yang akan menerimaku dalam segala kegagalan dan keberhasilan. Doakan lah aku tuk segera dapat membahagiakanmu dan lekas pulang.
            Ibu, malam ini aku duduk termenung sendirian. Teringat dimana hangatnya keluarga ketika kita semua menonton tv diruang utama yang tak terlalu megah. Makanpun tak nyaman ketika teringat teriakanmu dari dapur yang menyuruhku tuk segera makan. Ingin sekali aku pulang sejenak dan menikmati masakanmu. Tapi apalah dayaku yang  belum berkecukupan. Tunggulah aku Ibu, kelak aku akan pulang. Kan ku sulap gubug kita menjadi istana, kan ku buat istananmu penuh dengan tawa riang anak-anak dan keturunanmu.
            Ibu, jagalah kesehatanmu, tunggu hinga aku kembali pulang. Segala perjuangan ini ku curahkan untuk mu. Tiada hari tanpa memikirkanmu. Hanya tulisan-tulisan kecil ini yang dapat ku buat untuk mencurahkan segala kegundahan hati dan menemani setiap malamku. Semoga kelak aku dapat membanggakanmu Ibu. Astungkara.

Rabu, 20 Juli 2016. Dalam sebuah malam yang penuh dengan kerinduan.