Sunday, July 3, 2016

Perjuangan di Bulan Ramadhan – Part 1: Arti Dibalik Kesibukan


Nama gue Jono, gue punya temen  bernama Joni. Entah karena kebetulan atau emak kita udah janjian, nama gue dan Joni identik tapi tak sama. Gue dan Joni sama-sama kuliah di sebuah universitas negri di Jogja. Gue tinggal sekosan bareng Joni. Meskipun gue asli Jogja, gue tetep ngekos mengingat rumah gue di plosok Jogja, di daerah yang namanya ada gunungnya tapi bukan pegunungan. Kalo lho orang jogja mesti ngerti tempat asal gue. Gue dan Joni udah lama sahabatan, mulai dari ospek versi orde lama berlangsung, saat sama-sama jomblo, sampe saat ini sudah punya pasangan masing-masing dan hanya tinggal menunggu jadwal wisuda. Joni terkenal dengan karakternya yang serius, rajin, dan perfectionis, tapi dibalik semua itu gue merasakan kerapuhan dan kesedihan mendalam dalam diri Joni. Mulai semester 2 Jono selalu menceritakan masalah-masalahnya ke Gue, mungkin karena ia jomblo saat itu, jadinya gue yang diajak curhat. Tapi tenang Joni merupakan laki-laki sejati dan bukan LGBT, jadi gak ada masalah dia curhat ke Gue. Dibalik kegigihan dan semangat juangnya yang tinggi, gak banyak orang yang tau kisah pilu dan cobaan yang dihadapi Joni. Curhatan Joni menuju bulan Ramadhan ini yang cukup membuat gue turut sedih sebenernya.
Saat ini gue dan Joni sudah benar-benar menyelesaikan kuliah di fakultas Teknik. Hanya kita tinggal menunggu wisuda pada bulan Agustus depan. Menjelang Ramadhan kota pelajar mulai sepi dan semua mahasiswa mudik kembali ke kampung halaman, namun tak demikian dengan Joni. Joni tetap tinggal di Jogja. Ketika ditanya kenapa nggak pulang, Joni akan selalu menjawab masih mengurus syarat-syarat wisuda. Padahal gue tau, Joni sudah menyelesaikan semua syarat-syarat wisuda dan hanya tinggal membayar uang pendataran wisuda. Sebagian besar temen-temen gue biasanya berpikir Joni emang tiap liburan jarang pulang karena orangnya sibuk dan aktif. Di balik semua pemikiran itu, tiap malam Joni mengeluh ke gue, sangat rindu keluarga. Namun alasan ekonomi membuatnya tidak dapat membeli tiket untuk mudik. Joni menyibukkan diri bukan karena ia senang sibuk, namun karena faktor ekonomi yang mengharuskannya mencari uang jajannya sendiri. Gue salut ama Joni, udah kuliah dengan beasiswa, uang jajan mengusahakan sendiri, walaupun kadang-kadang dia pada akhirnya minjem duit ke gue juga atau kalau udah skak mat dia akan menelpon orang tua dan menyampaikan keadaannya.
H-7 lebaran ini gue bisa merasakan kesepian yang cukup mendalam dalam diri Joni. By the way gue blum cerita Joni merupakan anak rantauan dari luar Jawa yang jauh disana. Makan bersama di bulan remadhan adalah saat-saat Joni biasanya menyampaikan rahasia-rahasia kehidupannya. Di semester akhir ini gue dan Joni sudah agak jarang makan bersama, entah kenapa di semester 7  kmarin gue dan Joni sama-sama menemukan jodoh kita masing-masing dan akhirnya lebih suka makan dengan pacar masing-masing. Namun kali ini berbeda kisah, karena pacar kita masing-masing udah pada mudik. Yah jadilah tinggal Gue yang bentar lagi juga mau mudik dan Joni yang memang sepertinya tidak akan mudik. Saat gue makan bersama, joni tertegun melihat keluarga disebelah kami yang sedang asik makan bersama. Terdapat rona kerinduan bercampur kesedihan yang gue lihat di raut muka Joni. Gue tahu akhir-akhir ini dia sangat rindu keluarga, seketika ia mengambil telp dan gue liat kontak “My Love” yang ia telp. Namun beberapa saat ia menaruh hp nya kembali.
“Lho kenapa bro? Gak jadi nelp pacar lho?”
“Nggak ni bro, doi lagi kumpul ama keluarga, jangan nelp dlu katanya”
“Sabar ya Bro”
Sejak punya pacar Joni emaang terasa lebih bahagia, di akhir pekan kini ia sudah bisa jalan-jalan bersama pacarnya. Namun ketika pacarnya kembali pulang dan sulit dihubungi, ia mulai merasakan kesepian kembali. Joni sebenarnya sangat ingin pulang seperti rekang-rekanya yang lain, namun apalah daya, uang wisudanya aja belum dibayar padahal gak terlalu mahal apalagi bli tiket mudik. Kadang kasian juga ngeliat si Joni ini. Sesekali gue ajak dia kumpul ama keluarga gue buat merakan indahnya kebersamaaan keluarga, saat itu ia akan senang, namun malam harinya ia akan bengong dan melamun memikirkan Ibunya masak apa dirumah. Ya begitulah anak yang sedang merantau.
Joni selalu bangun pagi, di bulan ramdhan ini, ia selalu membuat timeline tiap pagi untuk memastikan dirinya akan produktif hari ini, dan melaksanakan apa yang sudah ia rencanakan. Membuat CV, nyari lowongan kerja, surat rekomendasi, ngeblog, dan lain-lain yang membuatnya sibuk. Lama-lama gue ngerti, Joni akan menyibukkan dirinya ketika ia merasa kesepian, hingga akhirnya ia melupakan kesepiannya. Tapi ketika timelinenya sudah habis ia kerjakan, dan pacarnya tidak bisa dihubungi saat itulah dia akan kekamar gue dan mengobrol menghilangkan kesepiannya. Ketika Joni sibuk gue sangat kagum padanya, ia bisa benar-benar menghasilkan karya yang keren dan bermanfaat, beberapa alat terkait teknik sempat ia buat. Namun dibalik semua kesibukaanya itu ternyata ada rasa kesepian yang mendalam.
“Bro, besok gue mau balik ni ke kampong, lu gak papa ya dikos sendiri aja, jugaan lu kan bisa sibuk nulis-nulis apalah gitu besok, atau suruh pacar lu nelpon-nelpon kek”
“Sante lah bro, lo pulang aja, kayak gak tau gue aja, gue kan sibuk bro, besok juga gue ada acara, boro-boro nelp pacar, gak ada pulsa bro”
Gue sebenarnya tau Joni gak sibuk besok, dia mesti mencari kesibukan buat menghilangkan kesepian aja. Ya sudahlah mungkin udah nasibnya Joni, untung dia punya pacar, kalo nggak namanya dah gue ganti namanya jadi Jones. Dengan prestasinya yang ia bangun selama kesepian-kespiannya, gue berharap sehabis lebaran ini, begitu lulus ia langsung mendapat kerja dan bisa merubah ekonomi keluarganya. Perjuangan masih pajang, habis lebaran ini gue dan Joni sama-sama akan wawancara kerja dan disanalah nanti perjuangan berikutnya dimulai.    


Bersambung…….


NB:
Sumber foto: http://sumutpos.co/wp-content/uploads/2014/03/Pria-kesepian-di-depan-jendela.jpg