Saturday, July 2, 2016

Sidang Skripsi

10 Juni 2016
            Pagi ini terasa berbeda dari biasanya. Pagi-pagi sekali saya sudah bangun dan siap dengan file presentasi, yang akan saya presentasikan nanti siang pukul 13.00. Bukan presentasi untuk lomba, ataupun menjadi pembicara dalam kegiatan pelatihan kepemimpinan. Presentasi kali ini jauh lebih penting, yakni presentasi untuk seminar skripsi. Setelah mengerjakan skripsi berbulan-bulan, hingga sampai jatuh sakit dan kena DB, tiba saatnya saya mempresentasikan hasil skripsi saya. Yang membuat saya gundah yakni  saya cukup tepat pada deadline dalam mengumpulkan naskah. H-1 sebelum hari pengumpulan naskah saya masih mengerjakan revisi yang cukup banyak hingga besoknya saya kumpulkan naskahnya tanpa banyak pengecekan kembali.
            30 menit sebelum mulai, saya sudah siap diruang sidang satu Teknik Geodesi UGM. Suasana sangat hening dan sunyi. Perlahan-lahan saya nyalakan proyekor dan membuka file presentasi. Tiba-tiba hape saya berbunyi, ternyata ada pesan singkat dari pembiming rahasia saya, tentunya bukan Bapak Abdul Basith yang memang pembimbing skripsi saya. Pesan singkat tersebut berbunyi “Tenang saja De, semua akan baik-baik saja “. Pesan tersebut untuk sekian menit cukup menenangkan, tapi tentu saja masih ada rasa yang sulit dijelaskan yang membuat cukup deg-degan. Tepat pukul 13.00 Bapak Abdul Basith, pembimbing saya datang disusul kemudian dengan Bapak Parseno yang merupakan dosen penguji saya. Masih tinggal menunggu Ibu Leni yang juga merupakan dosen penguji saya. Sembari menunggu Ibu Leni, obrolan santai terjadi antara saya, Pak Basith dan Parseno. Syukurlah obrolan santai ini mencairkan suasana, saat itu juga saya menajdi lebih santai dan yakin tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Beberapa menit kemudian Ibu Leni datang, dan inilah waktunya. Sebelum memulai presentasi, terlebih dahulu di buka oleh Bapak Abdul Basith. Sembari menunggu Pak Basith membuka acara, saya teringat pesan pembimbing rahasia saya yang saya temui sehari sebelumnya. Beliau menjelaskan, dosen penguji itu datang tidak dengan pikiran meluluskan kamu atau tidak, ketika kamu sudah diterima untuk melakukan seminar, dosen akan sudah menganggap kamu lulus, penguji hanya akan datang untuk mengkoreksi mana yang perlu diperbaiki, yang terpenting yakni presentasi tepat waktu dan tidak menmbuat dosen penguji menunggu lama. Perkataan tersebut belum teruji kebenarannya tapi tentunya membuat saya tidak grogi dan lebih santai menyampaikan presentasi, tentunya setelah latihan berkali-kali sebelumnya agar presentasi tidak melebihi waktu yang diberikan. Waktu presentasi yakni 15 menit.
            Sesuai dengan latihan, presentasi saya tidak lebih dari 15 menit. Setelah presentasi baru kemudian saatnya ditanggapi oleh dosen penguji. Tanggapan dapat berupa pertanyaan, saran, kritik dan lain-lain.Penguji pertama yakni Pak Parseno. Saya sudah beberapa kali diajar Pak Parseno, dan tentu saja dia merupakan dosen yang baik dan cukup detil. Skripsi saya membahas mengeni pasang surut laut. Pak Parseno bukanlah dosen yang mengajar pasang surut, dan rasanya tidak mendalami bidang ini. Namun dari pertanyaannya yang diajukan tentunya beliau paham mengenai skripsi saya dengan baik. Ada cukup banyak koreksi dalam hal penulisan yang diberikan oleh Pak Parseno. Hal ini sudah saya perkirakan sebelumnya, mengingat H-1 masih mengerjakan revisi, setelah diprint tidak banyak dikoreksi lagi. Tentu saja salah ketik ada dimana-mana. Hal yang terbaik dilakukan ketika dosen penguji menemukan kesalahan terutama dalam kesalahn penulis, menurut saya yakni menerimanya dan menyampaikan akan langsung memperbaiki. Tidak perlu mengeles kesana-kesini, cukup terima dan perbaiki. Kurang lebih 30 menit Pak Parseno menyampaikan pesan dan pertanyaan. Berikutnya Ibu Leni. Ibu Leni merupakan dosen yang yang mengajar tentang pasang surut laut, dan beberapa kali membimbing skripsi yang bertema sama dengan yang saya kerjkaan. Secara teknis tentu saja Bu Leni sangat paham atas apa yang saya kerjaan. Hampir satu jam saya berdiskusi dengan Bu Leni. Diskusi satu jam dengan Bu Leni adalah satu jam diskusi paling ilmiah sepanjang karir saya. Beberapa kali mengikuti seminar dan presentasi tidak ada yang bertanya secara detil dan tepat mengena pada apa yang saya kerjakan. Beberapa kali Bu Leni menanyakan beberapa hal yang merupakan point utama dalam skripsi saya, ada beberapa hal yang yang bisa saya jawab dan jelaskan karena sudah saya perkirkan sebelumnya. Namun ada juga yang benar-benar tidak saya sadari sehingga harus saya tambahkan dan perbaiki pada skripsi yang saya buat. Diskusi dengan Ibu Leni ini membuat saya tahu akan hal apa yang sudah benar saya lakukan dan mana yang kurang dan perlu ditambahkan. Saya rasa seperti itulah diskusi ilmiah yang sebenarnya. Membuat penulisnya sadar mana yang perlu ditambakan dan mana yang sudah benar dilakukan. Beberapak kali mengikuti lokakarya, ada kecendrungan orang bertanya seolah-olah hanya sekedar formalitas, tidak untuk mendebat dan menemukan kesimpulan yang tepat. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil menjelaskan dan meyakinkan Bu Leni akan hal yang ditanyakan, mengingat beliau yang memang sudah sangat mendalami bidang pasang surut laut. Kurang lebih satu jam berdiskusi dengan Bu Leni, akhirnya semuanya selesai. Beberapa saat kemudian Pak Basith menyampaikan perkataan yang tidak akan pernah saya lupakan “Setelah berdiskusi dengan dosen penguji, saudara Sapta kamu dinyatakan lulus” sesingkat itu dan saya lulus. Sungguh kuliah 4 tahun terasa singkat saat itu juga.
Kegembiraan bertambah ketika disambut suka cita oleh rekan-rekan seperjuangn di Geodesi, teman KKN dan tentunya pendamping hati yang paling cantik. Ini bukanlah sebuah akhir, tapi sebuah awal dalam memasuki fase kehidupan yang baru.
















1 comment:

  1. Wah hebat. Sekarang mas sapta sedang daftar/kerja di mana?

    ReplyDelete