Thursday, September 24, 2015

Kemah Kerja 2015: Ibu Penjual Cendol


            Selesai melakukan pengukuran KKH dan KKV. Waktunya melakukan pengukuran detil. Sebenarnya dijadwal hari ke empat masih harus melakukan pengukuran KKH dan KKV, namun syukurnya KKH dan KKV sudah bisa diselesaikan terlebih dahulu, dan Tim Polutpun sudah selesai melakukan perhitungan poligon utama sehingga kami bisa memulai pengukuran detil. Pengukuran detil yang pertama dimulai dari titik 1 yang berada di pinggir jalan, tepat di depan sebuah gubug kecil tempat Ibu-ibu menjual es cendol. Dalam benak saya, sepertinya kami sudah menemukan basecamp yang baru J
            Detil yang pertama lebih banyak berupa sawah, jadi lokasinya cukup terbuka dan tidak sulit dibidik, namun konsekuensinya adalah terik matahari yang terasa sangat panas di tengah sawah. Kamipun bergiliran memegang pool di tengah sawah,agar kulit hitamnya bisa sama rata. Mendekati jam 12 siang. Tiba saatnya makan siang, dan makan siang kali ini ditemani dengan es cendol. Untuk mengambil makan siang, kami harus berjalan kaki kembali ke Mess, Ibu penjual cendol yang sepertinya cukup “kasian” melihat kami sedikit lelah dan lapar dengan baiknya menawarkan sepedanya untuk dipakai kalau mau mengambil nasi. “Kalau besok-besok mau pake, pake aja Mas sepeda Ibu”. Memang anak baik, rejekinya tidak kemana-mana, saat itu juga kami mendapat bantuan transportasi yang sudah sangat cukup membantu bagi kami. Makan sambil minum es cendol, ditambah berkelakar dengan Ibu penjual cendol cukup membuat kami terhibur dan kembali semangat melakukan pengukuran. Detil demi detil kami ambil, sampai  beberapa hari akhirnya kami sampe di titik ke 7. Pada titik ke tujuh saat mengukur detil tiba-tiba saja turun hujan, kami memutuskan untuk berteduh dio sebuah pos kambling yang kali ini tidak ada colokannya. Tiba-tiba suara Ibu-ibu yang tidak asing lagi terdengar. “Mas mbak, ini ada minuman hangat dan jagung rebus, enak dimakan pas hujan-hujang seperti ini”, senyum manis Ibu penjual cendol yang biasanya berjualan di dekat titik BM 1. Ternyata rumah Ibu penjual cendol dekat dengan titik BM7. Sekali lagi, rejeki anak baik memang tidak kemana-mana. Hampir semua warga Bayat yang kami temui, semuanya ramah dan baik hati, tidak hanya Ibu penjual cendol.
            Singkat cerita Ibu penjual cendol, yang entah kenapa saya lupa namanya, hanya tinggal sendiri disebuah rumah yang kelihatannya sudah sedikit tua dan terbuat dari kayu. Suaminya sedang bekerja di Jawa timur kalau tidak salah, dan anak-anaknya masih merantau, ada yang sekolah dan sudah menikah. Dibalik kesederhanaannya, Ibu penjual cendol dengan baik hati meminjamkan sepeda, dan memberikan makanan serta minuman yang membuat kami semangat kembali melakukan pengukuran. Di tengah-tengah lelah dan pusing mengukur setiap detil yang ada, Tuhan sepertinya masih memberikan kenikmatan dan pelajar hidup tentang bagaimana nikmatnya sebuah kesederhanaan.

Kopi dan Teh dari Ibu Penjual Es Cendol




LANJUTKAN MEMBACA: JANGAN SALAHKAN DETIL!