Monday, December 14, 2015

SWATES - Teknologi Geospasial Pencegah Pelanggaran Batas Maritim


Beberapa waktu lalu saya dan dua orang teman saya yakni Imaddudin (Teknik Elektro UGM) dan Bagas Lail (Teknik Geodesi UGM) mencoba membuat sebuah teknologi untuk mencegah pelanggaran batas maritime di Indonesia. Alat ini ditujukan kepada nelayan, khususnya nelayan di wilayah perbatasan. Ide awal dari alat ini yakni membuat alat yang mampu memberikan peringatan dini dan menunjukkan dimana letak batas maritime kepada nelayan yang sedang mendekati wilayah perbatasan. Alat ini juga merupakan jawaban dari tantangan dosen saya, yakni Bapak Andi Arsana yang juga merupakan pakar di bidang batas maritime. Beliau mengatakan ide pembuatan alat ini sudah ia sampaikan sejak dulu, bahkan sebelum saya ‘lahir’ di Geodesi namun baru bisa terealilasi tahun 2015 ini.
            Proses pembuatan alat ini juga melewati beberapa tahapan yang cukup panjang. Awalnya saya hanya baru bisa menuangkan ide pembuatan alat ini kedalam bentuk karya tulis ilmiah yang saya presentasikan pada bulan Mei 2015  di acara SIMPOSIUM Nasional di ITS bersama Bagas dan Tegar. Saat itu masih belum tercipta alatnya secara fisik. Baru kemudian pada bulan Agustus 2015 saya  bekerjasa sama dengan Imaddudin untuk menciptakan alat ini, yang kemudian kami beri nama SWATES (Suwanten Wates) atau surara perbatasan.
Kompnen utama alat ini yakni alarm dan GPS. Jadi peringatan dini sebelum melewati batas maritime yang akan diberikan kepada nelayan berupa bunyi alarm. Pertanyaannya dimana dan kapan alarm akan berbunyi. Alarm akan berbunyi ketika alat tepat berada di garis batas dan akan terus berbunyi ketika sudah melewatinya. Adanya GPS pada alat ini digunakan untuk menunjukkan dimana letak garis batasnya. GPS yang digunakan yakni GPS Ublok, dengan ketelitian bisa sampai 2,5 meter. Artinya GPS dapat melenceng dari lokasi yang dimaksud sejauh 2,5 meter, namun untuk kepentingan pencegahan pelanggaran batas, bagi kami dengan ketelitian 2,5 meter sudah tergolong bagus. Untuk mengintegrasikan alarm dengan GPS digunakan perangkat Adruino dengan bahasa Pemrograman C.
Jika dihitung dari segi biaya Swates bisa dibilang cukup murah, kulang lebih Rp. 500. 000 untuk membuat satu alatnya. Jika diproduksi masal sangat memungkinkan biaya pengeluarannya lebih murah lagi.

Di masa kuliah, memang sangat menyenangkan dapat mengembangkan inovasi teknologi yang bisa bermanfaat nyata bagi masyarakat. Sedikit pesan untuk teman-teman mahasiswa khusunya mahasiswa Teknik, utamanya Teknik Geodesi, kerjasama dengan berbagai disiplin ilmu lain selain dari yang kita peajari akan dapat berpeluang besar untuk menghasilkan sebuah inovasi baru dibanding hanya berfokus dengan keilmuan sendiri, jadi ada baiknya coba mulailah berkolaborasi dengan berbagai keilmuan lain selain dari ilmu yang kita pelajari.