Monday, February 9, 2015

Informasi Spasial Tukang Parkir yang Menyelamatkan


Minggu, 8 Februari 2015
            Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan, besok adalah hari dimana saya harus mengumpulkan peta akhir hasil kemah kerja yang saya lakukan beberapa waktu lalu di Bayat, Klaten. Petanya sebenarnya sudah jadi, namun belum saya cetak karena mau saya cek kembali dengan teman sekelompok saya. Besok saya dan teman sekelompok saya harus mengumpulkan peta tepat pukul 06.30 WIB, mungkin paling pagi diantara kelompok yang lain. Hal ini dikarenakan dosen pembimbing saya yang kebetulan ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan siang hari sampe malam, sehingga hanya ada waktu pagi untuk memeriksa hasil petanya dan sekaligus mengadakan responsi.
            Hari itu juga saya melengkapi hal-hal yang masih belum sempurna di Peta yang akan saya kumpul besok. Sore hari tepat pukul 3 sore saya pergi kesebuah percetakan berlokasi di jalan Gejayan. Harga untuk mencetak 1 peta ukuran A1 adalah Rp.45.000. Cukup mahal untuk ukuran mahasiswa seperti saya, ditambah lagi 1 mahasiswa harus mencetak 2 peta, karena ukuran petanya tidak muat dalam 1 ukuran A1. Akhirnya saya memutuskan untuk mencetak 1 peta saja terlebih dahulu untuk mengecek hasilnya. Walau bukan mahasiswa Ekonomi, tapi saya mengerti apa jadinya jika sekaligus mencetak dalam jumlah yang banyak, kemudian terdapat kesalahan, akan sangat rugi jika harus mengulang mencetak kembali semuanya.
            Singkat cerita 1 peta akhirnya tercetak. Saya dan teman-teman sekelompok akhirnya mengecek kemabali hasil peta yang sudah tercetak. Benar saja masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, tampilan peta dilayar komputer dan setelah dicetak ternyata masih ada yang berbeda, sehingga perlu diatur ulang. Akhirnya jam 7 malam saya kembali ke percetakaan saat semuanya sudah yakin petanya sudah benar. Begitu saya menyampaikan ingin mencetak 8 peta, front officenya mengatakan “ Maaf mas operator kami sedang istirahat, belum tau balik jam berapa”.
            “Disini tutup jam berapa ya Mbak?” tanya saya berusaha untuk tetap tenang. “ Jam 9 Mas. Ternyata percetakan kalau hari minggu tutupnya cukup cepat. Akhirnya saya memutuskan untu mencetak ditempat lain. Karena sudah terbiasa menangani urusan cetak-mencetak untuk kegiatan organisasi, jadi saya cukup banyak tau dimana saja lokasi percetakan yang ada di Jogja, tepatnya disekitar UGM.
            Tak berlama-lama saya sudah berada dilokasi percetakan yang ke 2,dan sedikit tragis, begitu mengatakan ingin mencetak peta ukuran A1, front officenya mengatakan “ Maaf mas, operator kami sedang libur”. Kali ini ada sedikit kecemasan dalam diri saya. Oke masih ada 2 percetakan yang saya tau  bisa mencetak dengan ukuran A1. Dilokasi percetakan ke 3, sayang sekali ternyata hari minggu tidak buka. Saat itu juga tidak sengaja keringat dingin  mulai keluar.  Masih ada 1 tempat lagi yang bisa saya datangi, dan akirnya tempatnya buka. “Mas bisa cetak peta ukuran A1?” “ Bisa Mas”, kemudian ada perpertanyaan “mematikan” setelah itu. Mau print warna apa hitam putih ya?, kalau warna kami tidak bisa Mas. Saya langsung menghela nafas, kali ini saya tidak bisa pura-pura tenang ke diri saya sendiri. Besok pagi jam 6.30 peta sudah harus diberikan ke Dosen, karena Dosen pembimbing saya akan keluar negeri untuk beberapa hari, maka jika peta tidak diberikan besok saya akan terlambat mengumpulkan peta dalam waktu yang cukup lama. Peta yang sebelumnya sudah dibuat dengan susah payah, melewati proses pengukuran di Bayat selama 12 hari, sepertinya tidak bagus jika ceritanya diakhiri dengan kisah terlambat mengumpulkan peta karena tidak ada percetakan yang buka. Akhirnya saya memutuskan untuk mengitari Jogja untuk mencari percetakan yang masih buka. Dan syukurnya lagi hujan turun cukup deras malam itu, makan malam pun belum sempat, lengkaplah sudah cobaan malam ini. Perlahan lahan saya telusuri jalan disekitaran Jogja untuk melihat tempat percetakan, sesekali ada terlihat tempat percetakan namun rata-rata sudah tutup semua. Kali ini saya sudah tidak tenang, tidak lucu jadinya jika malam itu juga saya menelpon Dosen saya dan mengatakan besok petanya belum jadi karena percetakan tutup.
            Setelah mencari-cari cukup lama, saya masih belum menemukan tempat percetakan. Awalnya saya tidak ingin menceritakan ini kepada teman-teman saya yang lainnya agar tidak ikut panik, tapi karena tempat percetakan yang saya ketahui sudah habis akhirnya saya menghubungi teman-teman yang lainnya. Benar saja, semuanya menyarankan mencetak ke tempat yang sudah saya kunjungi sebelumnya, bahkan saya sudah mengunjungi percetakan yang teman-teman saya tidak ketahui. Akhirnya saya memutuskan kembali ke lokasi percetakan pertama, barang kali operatornya sudah kembali. Begitu kembali kesana operatornya ternyata tidak ada, dan yang lebih menyakitkan lagi ternyata operaotrnya pulang dan besok baru bisa mencetak. Oke dalam hati saya berkata, Tuhan mencoba menguji kesabaran dan usaha saya malam ini. Saya diam sejenak, mencoba berfikir planning yang harus saya lakukan. Pertama saya akan bertanaya ke teman-teman saya yang lainnya yang mungkin juga sudah mencetak peta, kedua jika tidak berhasil cara pertama saya akan kembali mengitari Jogja untuk mencari tempat percetaan. Palnning ketiga sebenarnya tidak ingin saya lakukan, tapi tetap harus ada jika planning 1 dan 2 gagal, yakni menelpon dosen dan menjelaskan keadaannya. Planning 1 pun dilasanakan, tidak ada solusi karena kebanyakn teman saya juga belum mencetak peta karena kebanyakan tidak mengumpulkan peta di pagi hari sepeti saya, jadwalnya berbeda-beda tergantung dari dosennya. Dengan sedikit keraguan planning ke 2 pun akan saya lakukan perlahan-lahan menuju motor matic saya yang belum di servis 2 bulan ini. Yang menyebalkan lagi saya harus bayar parkir untuk yang ke 3 kalinya ditempat yang sama.
            “Mas tidak usah bayar parkir lagi ya, ini udah 3 kali” Entah kenapa saya keceplosan mengatakan hal itu pada tukang parker. “ Oh ya tidak apa-apa Mas, sudah tidak kembali lagi kan nanti?. “ Iya Mas, Mas tahu tempat percetakan yang masih buka sampe malam dan hari minggu juga masih buka Mas?” Entah kenapa ada seseorang yang sepertinya menyuruh saya untuk bertanya pada tukang parkir ini. Dan jawabannya ternyata mengejutkan, “ Ada mas, lokasinya di Condong Catur, dari sini mas lurus keutara lewati jalan utama, lewati perempatang Ring Road, lurus keutara, nanti belok kanan, terus kiri, percetakannya di kanan jalan tepat di depan tempat karaoke”. Untuk ukuran tukang parkir, informasi spasial yang diberikan cukup jelas, ada arah jalan dan acuan lokasi dari tempat karaoke. Saya sepertinya tahu tempat karaoke yang dimaksud, (bukan karena sering karaoke). Akhirnya semua planning berubah, saya akan ke percetakan yang dimaksud tukang parkir tersebut. Dengan cepat saya sudah sampai ditempat yang dimaksud,, terlihat Mbak front office yang cantik menyambut saya yang kucel dan basah karena kehujanan. “Mbak bisa cetak A1?” Bisa Mas. “Bisa jadi malam ini?”. “Bisa Mas. “Bisa berwarna kan Mbak?” Dengan senyum manis, mbaknya menjawan : “Bisa kok Mas.” Seketika itu juga mbak tersebut langsung berubah bagai Ibu Peri yang bisa mengabulkan semua permintaan saya malam itu juga tak peduli harganya berapa saya bayar yang peting selesai malam ini juga.
            Saya duduk sejenak, saya menyempatkan mengobrol dengan Mbaknya dan menceritakan bagaimana perjuangan saya untuk sampai ketempat ini. Saya semakin yakin Tuhan selalu memberi cobaan yang pasti bisa diselesaikan. Saya sebenarnya tidak suka promosi tapi untuk kali ini saya sampaikan bahwa saya mencetak di GKM Print berlokasi di Jalan Rajawali Raya/ Sukaharjo No.1 A1 Condong Catur. Saya tidak mendapat diskon karena menuliskan nama percetakan disini, tapi sebagai bentuk trimakasih saya sampaikan lokasi percetakannya di blog. Harganya memang cukup mahal disbanding yang lain, tapi dari segi pelayanan bisa diacungi jempol dan yang terpenting senin – sabtu buka 24 jam dan hari minggu buka sampai jam 11, percayalah akan agak sulit mencari percetakan yang buka dihari minggu sampai jam 11 lengkap dengan operatornya.
            Akhirnya jam 11 kurang 15 menit petanya sudah tercetak sesuai pesanan. Saya langsung pulang dan berisitrirahat karena besok jam 6.30 pagi sudah harus berada di kantor pusat UGM untuk responsi  dan menampilkan peta ke Dosen. Esoknya responsi berjalan cukup lancar, semua pertanyaan bisa terjawab dengan baik, Bapak Dosen juga tidak tau bagaimana perjuangan mecetak peta ini (kecuali beliau baca blog saya J) , yang terpenting saya sudah mengerjakan tugas saya dan melewati semua proses pembuatan peta ini sampai akhir. Dan terakhir perjalanan mencetak peta sampai responsi ini berakhir  di warung makan bubur ayam dipinggir jalan kaliurang, entah kenapa buburnya terasa nikmat dan dunia seolah menyambut hangat saya pagi itu juga setelah responsi.