Sunday, May 10, 2015

“The Real Hidrografic Survey” : Nyemplung di Waduk Sermo



            Saya beberapa kali penah ikut survey hidro, tapi survey hidro yang kemarin (9 Mei 2015) saya ikuti sedikit berbeda dan lebih menantang dari sebelumnya. Yang pertama, tidak ada dosen yang mendampingi dalam survey kali ini. Peran dosen kali ini digantikan oleh kapten kapal Bang Barnabas yang juga merupakan mahasiswa Teknik Geodesi. Survei kali ini bertujuan untuk melakukan cheking alat dan sekaligus mengambil data untuk skripsi. Selain cheking alat dan mengambil data, ada 1 misi rahasia dalam survey kali ini yang saya yakin belum ada mahasiswa Geodesi pernah melakukannya sebelumnya. Jika penasaran silahkan baca artikel ini sampai akhir.
            Alat yang digunakan masih sama dengan survey-survei sebelumnya yakni Echosounder Single Beam dan Fishfiner. Alat ini dichek di Waduk Sermo sebelum nanti akan digunakan di Pantai Sadeng untuk pengambilan data skripsi. Yang akan skripsi yakni Mas Trias (Geodesi UGM 2011), Mas Fitrawan ( Geodesi UGM 2010) serta Mas Ivan Sidabutar (Geodesi UGM 2011). Serta ikut juga Mas Yudho yang katanya ingin menggunakan data survey di Pantai Sadeng untuk Tesisnya, yang tesis ini memang agak ribet dijelaskan, jadi tidak saya jelaskan banyak, bisa kontak orang yang bersangkutan jika ingin tau seperti apa judul Tesis jika mengambil topic survey hidrografi. Ada lagi 1 orang yang berperan penting dalam survey ini, yakni Bang Horas . Dia menyebut dirinya “Akamsi” (Anak Kampung Sini), selain jago mengikatkan tranduser ke kapal, ternyata dia juga jago dalam melakukan setting alat dan menyelesaikan permasalah yang dterjadi di alat Echosounder.
Tidak seperti biasanya, saya bukan yang termuda dalam survey ini, sudah ada adik kelas yang ikut survey yakni Yuda (Geodesi UGM 2013), tentunya saja ini berfungsi agar transfer ilmu antar angkatan terus berlanjut.
            Masuk ke bagian teknis, lalu pengecekan alat yang yang dilakukan? Jika sudah membaca tulis saya yang ini Survei Hidro penjelasan ini akan lebih mudah dimengerti. Pengecekan yang dilakukan yakni pertama alat dapat bekerja dengan baik, kedua adalah mengecek kualitas pengukuran pada saat setting alat dalam keadaan frekwensi tinggi dan frekwensi rendah. Satu lagi yakni pengecekan kualitas ukuran data kedalaman ketika 2 tranduser yakni transuder fishfinder dan ecosounder diletakkan dalam posisi yang saling berdekatan dan berjauhan. Tranduser merupakan alat yang berfungsi mengirimkan gelumbang akustik (suara) ke dalam air, dengan diketahui berapa kecepatan gelombang dan waktu tempuh gelombang maka kedalaman bisa didapat.
            Diawal pengukuran semuanya berjalan lancar, jalur kapal yang dibuat hanya garis lurus memotong waduk, karena hanya untuk melakukan pengecekan jadi tidak perlu memutari waduk. Namun permasahan mulai terjadi ketika pengukuran dilakukan dengan frekwensi lebih tinggi. Tiba – tiba echosounder mati. Disinilah peran mahasiswa S1, yakni menangani masalah. Analisis pertama tentu saja permasalahan yang dapat membuat echosounder mati yakni karena sumber dayanya yakni aki. Kemungkinan aki nya habis. Untung masih membawa aki yang lainnya, namun ternyata begitu dicoa aki yang lagi 1 tidak terlalu kuat untuk menghidupkan echosounder. Masih ada beberapa aki kecil lainnya lagi, berbagai rangakian listrik seri dan parallel pun dilakukan untuk menghidupkan echosounder namun belum juga berhasil. Sedikit mulai panik, jangan-jangan permasalahan tidak pada akinya. Bisa gawat kalau ada kerusakan pada alat yang harganya melebihi harga mobil avanza ini.


            Kebetulan sekali pada saat kami mengukur di Waduk Sermo ada tim GPS yang juga sedang melakukan survey Deformasi di sana, mungkin saja mereka membawa aki cadangan. Tim langsung bergegas menuju Tim Deformasi, dalam waktu sekejap aki baru sudah diangkut ke kapal. Saat yang menegangkan terjadi lagi, ketika coba dinyalakan dan akhirnyaa…. Alat masih belum menyala. Hampir 1 jam mengotak atik aki, namun belum ada hasil juga, yang diperlukan adalah aki yang memiliki daya besar yang mampu menghidupkan echosounder. Namun karena waktu sudah semakin sore dan jika kembali kekampus untuk mengambil aki akan sangat tidak efisien, akhirnya tim memutuskan pengecekan alat disudahi, cukup menggunakan data yang sudah terekam sebelumnya. Ada rasa kurang puas kala itu, tujuan utama pengukuran belum terselesaikan sepenuhnya. Namun tunggu dulu, masih ada 1 misi rahasia yang harus diselesaikan.
            Kalau pengukuran utama belum bisa sempurna, minimal misi rahasia ini harus berhasil 100%. Misinya yakni melakukan uji coba pelampung. Bagaimana caranya? Menceburkan diri ke Waduk sambil menggunakan pelampung. Sebenarnya sudah ada larangan untuk tidak berenang di Waduk, namun setelah meminta ijin dan menjelaskan tujuannya, aksi nyebur ini dibolehkan. Pelampung yang dimiliki kampus memang bagus, namun sangat jarang digunakan bahkan ada yang belum pernah dipakai sama sekali. Oke dari pada pusing memikirkan aki tadi, semuanya akhir memutuskan ikut nyebur ke Waduk.
            Dan apa yang terjadi? Ternyata menyenagkan juga main air di Waduk J walau awalnya sedikit menakutkan. Sejenak masalah aki terlupakan, dan saatnya berpose saat di Waduk.




Selesai nyebur, tim langsung bergegas pulang dan mencoba menghidupkan echosounder dengan aki yang baru, dan akhirnya Echosounder mau menyala kembali. Syukur nilai skripsi sepertinya masih bisa keluar nanti J . Pesan untuk surveyor hidrografi dimana saja, pastikan membawa aki cadangan yang memadai ketika survey hidro dimana saja berada.

Salam Survei Hidro