Friday, March 20, 2015

Surveyor Pemetaan “Sampah”


            Memetakan sampah mungkin jarang terpikirkan dan jarang juga dilakukan. Namun itulah yang saya lakukan  pada hari selasa dan rabu tanggal 17 dan 18 Maret  2015. Intinya bukan memetakan sampahnya, tapi membuat peta topografi di areal Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang isinya penuh dengan sampah yang membukit. Kegiatan ini bisa saya ikuti karena ada kakak angkatan di Teknik Geodesi UGM yang masih peduli untuk memberi pengalaman ke adik-adiknya, kakak-kakak tersebut yakni Mas Afradon Aditya (Geodesi UGM 2010), Mas Guge Faizal (Geodesi UGM 2010),Mas Brilyan (Teknik Geodesi UGM 2010) dan Mas Fajar Sidiq (Teknik Geodesi UGM 2010). Perlu lebih banyak kakak angkatan yang keren seperti ini. Peta topografi yang dihasilkan ini nantinya diserahkan ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) yang memesan petanya.
            Lokasi TPA yang dipetakan yakni TPA Piyungan, tidak jauh dari kampus UGM, sekitar 45 menit jika ditempuh dengan motor. Pengukuran ini  berlangsung selama 2 hari dan tepat diwaktu kuliah. Terpaksa saya harus menggunakan jatah boloh kuliah saya, tentu saja untuk mendapat pengalaman baru dan belajar yang lain, yang tidak akan ditemukan dibangku kuliah. Kenapa tidak? Tentu saja karena tidak ada praktikum yang akan menyuruh mahasiswa untuk mengukur di TPA. Kesempatan seperti ini harus diambil. Begitu sampai dilokasi pengukuran saya cukup kaget, pemandangan ini yang saya lihat.




Dilokasi TPA Piyungan terdapat puluhan, bahkan mungkin lebih dari 100 sapi yang bebas lepas mencari makan di gundukan sampah-sampah yang ada. Makanan sapi disini adalah sampah-sampah yang mungkin berisi sisa-sisa makanan yang kita makan. Entah sehat atau tidak, namun rasanya saya tidak akan memakan daging sapi, jika tau sapinya makan-makanan sampah ini.
Kembali ke proses pengukuran, pengukuran kali ini menggunakan Total Sation, dan terdapat 4 prisma pole. Yang diukur adalah berupa batas wilayah TPAnya dan titik tinggi (Spot High) sehingga nantinya terlihat kontur  yang dibentuk oleh gundukan-gundukan sampah. Mungkin terlihat sederhana mengukur gundukan sampah, tapi coba lihat jika gundukannya setinggi ini:



Tantangan lainnya dalam pengukuran kali ini yakni aroma sampahnya, bisa dibayangkan senidiri ada sampah dari berbgai jenis, kering, basah, setangah basah, agak basah, dan lain-lain, serta ditambahkan lagi kotoran sapi bercampur aduk menjadi satu. Dan diatas itulah saya dan tim melakukan pemetaan.


Tentunya sudah dilengkapi peralatan kemanan, mulai dari sepatu boot, helm proyek, masker, dan rompi ukur. Kemudahan yang ada saat mengukur di TPA yakni lokasinya yang terbuka, sehingga tidak ada halangan didalam membidik prisma pole. Namun apa konsekwensi jika lokasinya terbuka? Jika cuaca sedang panas, panasnya langsung menumbus kulit, walau sudah memakai pakaian lengan panjang tetap saja panasnya sangat terasa. Mengukur sambil berbekal 2 botol minuman, saking panasnya, tidak sampai jam 11 minumannya sudah habis. Sebenarnya agak tidak nyaman minum diantara sampah-sampah dan kotoran, tapi karena saking panasnya, bau-bau yang ada pun terlupakan. Pembagian tugas dalam pengukuran kali ini cukup baik, diawal pengukuran Mas Guge yang memegang alat, sisanya memegang pole menyebar kemana-mana, selanjutnya saling bergiliran memegang alat.



Mengukur lokasi yang luasnya kurang lebih 10 hektar, bisa selesai dalam waktu 2 hari bagi saya itu cukup cepat. Maklum saat kemah kerja lokasi 10 Hektar diberi waktu mengukur selama 1 minggu. Ternyata ada tips dan trick mengukur yang baru saya peroleh dari Mas Afradon saat pengukuran ini, kuncinya adalah melihat TORnya lebih jeli lagi. Kadang tidak semua pengukuran mensyaratkan hasil yang sangat teliti dan data yang sangat rapat.
Selain lokasi TPA yang bau, tantangan yang ada saat menukur di TPA yakni terrainya yang berbukit. Sampah yang menumpuk tidak kalah jauh lah mungkin dengan batu bara di pertambangan, jika mengukurnya sudah benar, konturnya akan terlihat sangat bagus. Bedanya jika ditambang batu bara mungkin lebih panas, sedangkan di TPA lebih bau. Setidaknya pengukuran kali ini memeberi gambaran bagi saya bagaimana nanti jika harus mengukur tumpukan batu bara jika menggunakan Total Station.
Mengukur di TPA ini juga perlu lebih berhati-hati. Terdapat genangan air yang tertutup sampah, sehingga tidak terlihat seperti genangan air. Dan akhirnya Mas Brily pun terkena “jackpot”, dia tidak sengaja menginjak genangan air, sehingga salah satu kakinya, mulai dari lutut kebawah masuk ke kubngan air. Jangan tanya bau kubangannya seperti apa, silahkan datang sendiri dan hirup nikmat aromanya.

     


Pelajaran diluar pengukuran yang saya ambil di TPA Piyungan yakni ketika truk pengankut sampah datang dan menurunkan sampah, tidak hanya sapi-sapi yang akan mendekat, tapi warga disanapun yang menumpulkan sampah plastik berdatangan dan memilah-milah sampah yang ada. Aroma bau mungkin merupakan hal-hal yang sudah biasa bagi sebagian besar Ibu-Ibu yang memilah-milah sampah di tempat itu.


Saat itu juga saya merasa diingatkan untuk tetap bersyukur bisa mendapat pendidikan sampai saat ini ditempat yang sangat layak dan bagus seperti UGM, tidak terbayang jika saya lahir didekat lokasi TPA ini mungkin juga ikut bekerja memilh-milah sampah.
Mungkin itu yang bisa saya sampaiakan dalam pengalaman kali ini. Bahkan ditempat yang kotor dan agak baupun, keilmuan Geodesi masih diperlukan. Kata salah seorang rekan saya, selama Bumi masih ada, selama itu ahli Geodesi diperlukan. Dan terakhir, terimakasih sekali lagi saya ucapkan kepada Mas Adon, Mas Brili, Mas Guge dan Mas Fajar atas pengalama yang sudah diberikan. Berikut ada foto bagaimana ekspresi surveyor kalau pengukuran sudah selesai dilakukan: