Saturday, March 7, 2015

Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia: Nenek Moyang “kita” Seorang Pelaut (?)


“nenek moyangku seorang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa”
            Sebelum anda melanjutkan nyanyian diatas, perlu saya jelaskan tulisan saya kali ini bukanlah bermaksud membahas tentang nyanyian diatas, melainkan membahas mengenai tantangan dan peluang Indonesia sebagai poros maritim Dunia. Namun entah kenapa laku diatas terlintas ketika memikirkan kalimat poros maritim dunia.  Tapi apa benar dulunya nenek moyang kita seorang pelaut?

            Indonesia saat ini, dibawah kepeminpinan Presiden Joko Widodo sedang gencar-gencarnya membahas mengenai pengembangan Negara Maritim. Pertanyaannya apakah Masyarakat Indonesia sendiri sudah sanggaup untuk membangkitkan sektor maritim Indonesia bersama pemerintahan Bapak Joko Widodo? Tentu saja siap apabila semua elemen baik pemerintah dan masyarakat mau saling bekerja sama dalam mewujudkannya. Indonesia yang merupakan Negara kepulauan memiliki potensi yang besar dibidang maritim, hal ini diwujudkan dari wilayah Indonesia yang 70% merupakan lautan. Jika 70% wilayah maritim ini kita kelola dengan baik, betapa kayanya Negara Indonesia. Jika sudah dikelola dengan baik tidak hanya menguntungkan bagi masyarakat Indonesia, Indonesia juga akan dilirik oleh masyarakat Dunia. Terlebih lagi wilayah laut selain bisa dipandang sebagai pemisah antar 1 Negara dengan yang lainnya, jika dipandang dengan perspektif yang lain, Lautan juga merupakan Penghubung 1 Negara dengan Negara yang lain. Dengan posisi Geografi Indonesia saat ini, yang berada diantara berbagai Negara yan mengapitnya, sangat memungkinkan Indonesia untuk menjadikan wilayah peraiaran Indonesia untuk menjadi penghubung antar berbagai Negara dan bahkan menjadi poros maritim Dunia. Hal ini pula yang kemudian mendukung dibentuknya Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang memungkikan Negara lain untuk melintah diperairan Indonesia.
            ALKI ini sebenarnya masih belum final  dan masih perlu disempurnakan kembali sehingga selain dapat membantu Negara lain, juga bisa menguntungkna Bangsa  Indonesia. Dengan wilayah perairan Indonesia yang cukup luas, tentu tidak semudah berpidato dalam memajukan sektor maritim Indonesia. Tantangan yang dihadapi ketika ingin menjadikan perairan Indonesia menjadi poros maritim dunia yakni kesiapan Masyrakat Indonesia sendiri terutama dibagian kemamanan. Bisa dibayangkan jika Indonesia benar-benar menjadi pusat maritim Dunia, akan banyak interaksi yang terjadi dengan Negara lain, dengan luas wilayah lautan yang cukup luas, tentu perlu pengamanan yang cukup extra dalam menjaga wilayah perairan Indonesia agar masyarakat dunia juga tertib apabila ingin masuk ke wilayah Perairan Indonesia. Untuk masalah keamanan ini TNI AL mempunyai peran yang cukup penting, maka dari itu sebelum benar-benar menjadi poros maritim dunia, Indonesia perlu meningkatkan kekuatan TNI AL untuk menjaga pertahanan dan keamanan. Tantangan lain yang dihadapi dalam rangkan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia yakni fasilitas yang ada disektor maritim seperti pelabuhan, dermaga dan lain sebagainya perlu diperbanyak terutama dilokasi-lokasi strategis yang kemungkinan banyak dilalui oleh masyarakat maritim Dunia, misalnya didaerah 3 ALKI yang sudah ditentukan saat ini.
            Kembali lagi melihat lokasi Geografis Indonesia yang terletak diapit oleh banyak Negara, hal inilah yang merupakan peluang besar bagi Indonesia. Tanpa perlu banyak publikasi, orang Malaysia atau Singapura yang ingin ke Autralia perlu melewati perairan Indonesia, atau sebaliknya jika orang Australia yang ingin berlayar ke Filipina juga perlu melewati Indonesia. Hal ini bisa dimanfaatkan Indonesia, misalnya dibuat tol laut atau pelabuhan yang memungkinkan kapal yang melintah harus melabuh ke suatau daerah di Indonesia, hal ini kemudian juga bisa menguntungkan Indonesia di berbagai sektor, salah satunya sektor ekonomi, jika banyak yang berlabuh ke Indonesia, ada kemungkinan besar terjadi berbgaia kegiatan ekonomi, misalnya orang asing membeli bahan bakar untuk kapal di Indonesia atau sekedar membeli makanan lokal selama berlabuh. Dengan catatan masalah keamanan sudah bisa dijamin oleh pemerintah dan masyarakat turut mendukungnya.

            Kembali lagi ke pernyataan lagu diawal yang “katanya” nenek moyang kita adalah seorang pelaut. Itu bukanlah hal yang penting untuk diperkarakan. Yang perlu kita pikirkan adalah 50 tahun kedepan atau 100 tahu kedepan, masyarakat Indonesia akan mengenal kita sebagai “nenek moyang pelaut” atau bangsa yang gagal memanfaatkan potensi lautnya. Hal itu tergantung dari apa yang kita lakukan sekarang dan seterusnya.

Sumber: https://iphincow.files.wordpress.com/2013/08/pelaut-dan-profesor.jpg?w=450